Menanam Harapan Terbaik bagi Orang Beriman di Tengah Badai Kehidupan

- Jumat, 21 Januari 2022 | 05:00 WIB
Dr. H. Khamim Zarkasih Putro, M. Si. (Dok. Pribadi)
Dr. H. Khamim Zarkasih Putro, M. Si. (Dok. Pribadi)

SETIAP orang beriman pasti memiliki harapan untuk hidup lebih baik; harapan untuk hidup bahagia, sejahtera, dan terhormat. Mereka akan berharap bisa mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, bisa terhindar dari penderitaan, kemiskinan dan kebodohan.

Juga berharap dapat menjadi pegawai/karyawan yang berdedikasi tinggi dan berprestasi, dapat menjadi muslim yang taqwa, selalu beramal shaleh, berakhlak mulia (akhlaq al-karimah) dan menjalankan amar ma'ruf dan nahi munkar.

Masih banyak lagi harapan yang semua itu menunjukkan keadaan yang lebih baik daripada situasi sekarang ini.

Baca Juga: Suami Setia 14: Kehidupan Baru Bersama Dua Istri yang Rukun, Kehadiran Anak Melengkapi Kebahagiaan

Harapan hidup yang lebih baik juga berkaitan dengan ujian Pandemi Covid-19 yang kabarnya akan menaik lagi, bagaimana memaknai situasi saat ini untuk menjadikan hidup lebih bermakna, tidak patah semangat, dan penuh keikhlasan di dalam menghadapi berbagai badai kehidupan sekarang ini.

Ujian hidup berupa Pandemi Covid-19 yang fluktuatif sebagaimana yang sedang dihadapi saat ini adalah saat yang tepat untuk menabur berbagai harapan untuk kehidupan yang lebih baik dengan menebarkan nilai-nilai kemuliaan penuh kebersamaan.

Layaknya sepetak tanah, dunia adalah tempat menanam, dan harapan itu adalah laksana benih. Karena itu, untuk dapat panen, maka kita harus mau dan mampu menabur benih. Siapapun yang semakin banyak menabur benih, maka semakin banyak ia berkesempatan untuk panen.

Siapa yang banyak menanam akan banyak mengetam, begitulah kira-kira sunatullah yang dirasakan seseorang dalam kehidupannya. Hanya persoalannya, seringkali seseorang lupa bahwa harapan itu dapat menimbulkan berbagai perilaku.

Baca Juga: Cerita misteri penampakan seorang nenek noton TV semalam, tapi siapakah dia karena nenek teryata tidur

Pertama, orang yang mempunyai harapan, tetapi tidak dibarengi dengan kemauan dan kemampuan melakukan usaha untuk mewujudkan harapan itu. Akibatnya, harapan itu mendorong orang melakukan potong kompas atau jalan pintas.

Halaman:

Editor: Swasto Dayanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pengembangan Sifat Bawaan Manusia

Jumat, 20 Mei 2022 | 06:03 WIB

Etos Kerja dalam Islam

Sabtu, 14 Mei 2022 | 05:30 WIB

Pernyataan Keimanan dalam Tuntunan Islam

Jumat, 6 Mei 2022 | 06:38 WIB
X