• Sabtu, 10 Desember 2022

Kemerdekaan, Kebangsaan, dan Kesetaraan Gender di Bidang Pertanahan

- Senin, 8 Agustus 2022 | 10:30 WIB
Prof Dr Sudjito SH MSi (Dok Pribadi)
Prof Dr Sudjito SH MSi (Dok Pribadi)


Oleh: Sudjito Atmoredjo*

SEMANGAT kemerdekaan dan semangat kebangsaan, semestinya terus disemai dan dipupuk di negeri ini. Patut diparesiasi, bahwa penyusun UUPA (UU No.5/1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria) memiliki komitmen dan konsisten, dalam menjabarkan semangat-semangat itu ke dalam konstruksi gender di bidang pertanahan.


Tersurat pada Pasal 9 ayat (2): “Tiap-tiap warga-negara Indonesia, baik laki-laki maupun wanita mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh sesuatu hak atas tanah, serta untuk mendapat manfaat dari hasilnya, baik bagi diri sendiri, maupun keluarganya”.


Penyebutan “tiap-tiap warga-negara Indonesia” pada pasal itu, merupakan satu kesatuan pengertian dengan ketentuan Pasal 1 ayat (1 dan 2). Pasal 1 ayat (1): “Seluruh wilayah Indonesia adalah kesatuan tanah-air dari seluruh rakyat Indonesia yang bersatu sebagai bangsa Indonesia”.

Baca Juga: Kompak Jogis gelar kopdar dua bulan sekali, saling semangati jalankan usaha mandiri

Rakyat atau bangsa pada pasal ini, dipadankan dengan sekumpulan manusia (warga-negara) yang berdaulat atas willayah negaranya. Wilayah dimaksud mencakup: ”bumi, air, ruang angkasa, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya”. Dalam pada itu, apa yang disebut ”tanah” adalah permukaan (lapisan atas) bumi yang padat.


Pasal 1 ayat (2): ”Seluruh bumi, air dan ruang angkasa, termasuk kekayaan alam yang terkandung didalamnya dalam wilayah Republik Indonesia, sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa adalah bumi, air dan ruang angkasa bangsa Indonesia dan merupakan kekayaan nasional”.

Pada pasal ini, ditanamkan kesadaran religius bahwa segalanya merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karenanya, bangsa Indonesia, mesti mensyukurinya, dan bertanggungjawab untuk menjaga kelestariannya, mencegah kerusakannya (Pasal 15).

Baca Juga: Ajudan istri Ferdy Sambo Brigadir RR jadi tersangka, penyidik sudah kantongi dua bukti


Pada pasal-pasal di atas, ditanamkan wawasan kebangsaan (nasionalisme). Kata-kata: ”adalah bumi, air dan ruang angkasa bangsa Indonesia dan merupakan kekayaan nasional”, mengandung pesan moral agar kepentingan bangsa ditempatkan di atas kepentingan pribadi.

Halaman:

Editor: Hudono

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Teladan Jayamahe

Selasa, 29 November 2022 | 09:15 WIB

Wisata Ke Buton, Melihat Kaombo

Senin, 31 Oktober 2022 | 05:00 WIB

Kasus Obat Sirup Bermasalah, Jangan Dipandang Remeh

Kamis, 27 Oktober 2022 | 17:30 WIB

Renungan Tragedi Sepakbola Kanjuruhan

Rabu, 19 Oktober 2022 | 10:00 WIB

Rekayasa dan Pemelintiran Hukum

Senin, 3 Oktober 2022 | 14:00 WIB

Orang-orang Baik di Negeri Pancasila

Kamis, 22 September 2022 | 11:45 WIB

Mengenang Prof Azyumardi Azra

Senin, 19 September 2022 | 12:00 WIB

Mewaspadai Kriminalitas Pasca Kenaikan BBM

Minggu, 11 September 2022 | 11:30 WIB

Awas, Kejahatan 'Nominee' di Bidang Pertanahan

Minggu, 11 September 2022 | 08:30 WIB

Masa Depan Medsos dan Eksistensi Media Massa

Rabu, 24 Agustus 2022 | 09:45 WIB

Adakah Mafia Tanah Dalam Kasus Sambo?

Senin, 22 Agustus 2022 | 10:00 WIB

'Jangan Sampai Tiga Kali'

Rabu, 10 Agustus 2022 | 10:00 WIB

Peradaban Versus Kekerasan

Jumat, 29 Juli 2022 | 07:30 WIB

Kontroversi Tunjangan Wartawan Bersertifikat

Minggu, 3 Juli 2022 | 11:30 WIB

Keadaban Bernegara Hukum

Jumat, 1 Juli 2022 | 10:00 WIB

IMB Gratis

Minggu, 5 Juni 2022 | 06:39 WIB

Suap-Menyuap

Jumat, 3 Juni 2022 | 10:36 WIB
X