• Rabu, 5 Oktober 2022

Pentas virtual seni rakyat Jateng ada Cingpoling, tari asli Purworejo yang nyaris punah, ini kisah dibaliknya

- Minggu, 24 Juli 2022 | 22:01 WIB
Cingpoling, seni tari asli Purworejo yang keberadaannya sekarang ini nyaris punah. (Foto: Jarot Sarwosambodo)
Cingpoling, seni tari asli Purworejo yang keberadaannya sekarang ini nyaris punah. (Foto: Jarot Sarwosambodo)

PURWOREJO, harianmerapi.com - Pertunjukan virtual seni rakyat Jawa Tengah (Jateng) tampilkan Cingpoling
 
Cingpoling yang tampil dalam pertunjukan virtual seni rakyat Jateng itu adalah tarian asli Kabupaten Purworejo yang nyaris punah. 
 
Cingpoling tarian asli Purworejo Jateng ini disebut nyaris punah karena di daerah asalnya, hanya tinggal 2 grup yang sampai sekarang masih konsisten melestarikannya. 
 
 
Nah, bagaimana sejarah Cingpoling? Ini dia kisah dibaliknya. 
 
Sebelumnya, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Purworejo bekerja sama dengan Disdikbud Jawa Tengah menyelenggarakan Pertunjukan Seni Rakyat Jateng secara virtual. 
 
Kesempatan itu dimanfaatkan Disdikbud Purworejo untuk menampilkan tarian Cingpoling yang keberadaannya sudah nyaris punah. 
 
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Purworejo Dyah Woro Setyaningsih mengatakan, kolaborasi pemkab dengan Pemprov Jateng itu merupakan hasil dari komunikasi yang baik antara dua pemerintahan.
 
"Komunikasi itu menghasilkan peluang yang kemudian kami tangkap untuk tujuan mendukung pengembangan seni di Purworejo," ungkapnya, Minggu 24 Juli 2022.
 
Pemkab memilih Cingpoling sebagai salah satu seni tradisi yang diangkat dalam gelaran tersebut. 
 
 
Sebab, katanya, Cingpoling termasuk tradisi asli Purworejo yang keberadaannya mendesak untuk dilestarikan. 
 
Seni itu, lanjutnya, dinilai nyaris punah dan hanya tersisa dua grup di Kabupaten Purworejo, yakni di Desa Jatirejo Kaligesing dan Kesawen Pituruh.
 
Terlebih, Cingpoling sudah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 
 
"Maka kami hadirkan Cingpoling asal Jatirejo untuk bisa tampil, harapannya menjadi pengetahuan bagi masyarakat bahwa seni itu masih ada, sekaligus menyemangati grup seni agar terus termotivasi untuk menjaga budayanya," tegasnya.
 
Dinas juga mengundang grup seni Jaran Kepang Turonggo Seto Mudo Kelurahan Keseneng Purworejo dengan penari anak-anak, Karaitan Laras Siwi juga dengan pengrawit anak-anak SDN Kroyo Lor. 
 
Selain itu, grup musik Jesben juga dihadirkan dengan membawakan lagu anak-anak dan tembang populer zaman dulu. 
 
 
Seluruhnya tampil secara live di akun YouTube Kebudayaan Purworejo.
 
Ketua Grup Cingpoling Ponco Manunggal Jati Jatirejo Kaligesing, Tukiyat mengemukakan, seniman desanya masih konsisten menjaga akar tradisi yang sudah ada selama bertahun-tahun. 
 
Salah satunya, katanya, adalah Cingpoling yang grupnya berdiri sejak tahun 1931.
 
Adapun soal sejarah, kata Tukiyat, Cingpoling merupakan penggambaran dari perjuangan para prajurit desa dalam mengawal pimpinannya menuju kotaraja. 
 
"Kisahnya adalah ketika para prajurit menyamar dalam mengantar demang atau pemimpin desa, mengantar upeti ke kutaraja," ungkapnya. 
 
Prajurit itu menyamarkan senjatanya menjadi bendera. 
 
 
Sementara para pembawa upeti berjalan di belakang mereka. 
 
Latar belakang kisah Cingpoling diduga adalah pada masa kerajaan Mataram Islam. 
 
"Tidak ada yang tahu sejak kapan Cingpoling itu mulai ditarikan, yang jelas jauh sebelum Indonesia merdeka, grup kami saja berdiri sejak tahun 1931," ungkapnya. 
 
Dalam penampilannya, Cingpoling ditarikan 12 penari. 
 
1 Penari paling depan sebagai pemegang bendera yang disebut Kumendir. 
 
2 Penari disebut Pencak dan membawa pedang, 2 Pengecreng sebagai pemegang kencreng. 
 
 
Adapun sisanya disebut Pendrodog, menabuh alat musik semacam beduk berukuran mini. 
 
Cingpoling ditarikan rata-tata selama 30 menit. 
 
"Di dalamnya ada babak yang seru, yakni ketika 2 pencak bertarung beradu pedang," ucapnya. 
 
Cingpoling di Jatirejo, lanjutnya, pernah hampir punah pada tahun 90-an ketika penarinya hanya tersisa enam orang. 
 
"Namun, kami bisa bertahan dan berkembang, karena Cingpoling ternyata masih dibutuhkan untuk acara adat, seperti Jolenan, juga dimainkan ketika perayaan hari nasional," tandasnya.***

Editor: Jarot Sarwosambodo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X