• Kamis, 18 Agustus 2022

Gaungkan Presidensi G20 di Luar Negeri, Diaspora Indonesia yang Mencapai 8 Juta Orang Punya Peran Diplomasi

- Rabu, 22 Juni 2022 | 15:05 WIB
Sejumlah narasumber dalam Diaspora Talk yang diselenggarakan secara hybrid di Jogja, Selasa (21/6/2022).  (Dok IKP Kemkominfo)
Sejumlah narasumber dalam Diaspora Talk yang diselenggarakan secara hybrid di Jogja, Selasa (21/6/2022). (Dok IKP Kemkominfo)

JOGJA, harianmerapi.com - Diaspora Indonesia yang mencapai 8 juta orang memiliki peran strategis menggaungkan Presidensi G20 di luar negeri.

Diaspora Indonesia secara tidak langsung mengemban tugas diplomasi sebagai bagian dari nation branding Indonesia di negara tempat masing-masing diaspora bernaung.

Demikian diutarakan Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Kemkominfo Republik Indonesia, Usman Kansong, dalam Diaspora Talk yang diselenggarakan secara hybrid di Jogja, Selasa (21/6/2022).

Baca Juga: Pertemuan G20, Indonesia Pastikan Strategi Keluar dari Pandemi, Ini Langkah yang Ditempuh

Menurut Usman, diaspora Indonesia bisa melakukan berbagai hal yang mendukung komunikasi publik Presidensi G20. Misalnya melakukan aksi unggah konten serentak melalui media sosial maupun dengan menggiatkan obrolan mengenai Presidensi G20 Indonesia.

“Jumlah 8 juta orang adalah kekuatan dahsyat. Branding negara kita itu ada di teman-teman diaspora. Beberapa teman yang berprestasi juga merupakan bagian dari nation branding Indonesia di negara tempat mereka tinggal,” paparnya.

Usman mengungkapkan, apa yang perlu dikomunikasikan oleh para diaspora tentang presidensi G20 Indonesia di luar negeri tidak hanya seputar tiga tema utama yakni arsitektur kesehatan global, transformasi digital, dan transisi energi. Tetapi juga apa manfaat yang didapat dari terlaksananya presidensi G20 Indonesia ini.

Baca Juga: Ada Motif Kawung, Ini Makna Filosofis Logo Indonesia Presidensi G20 Tahun 2022

“Isu-isu tadi seringkali terlalu elit sehingga sulit dicerna oleh masyarakat Indonesia di dalam negeri mungkin juga di luar negeri. Karena itu mungkin kita bisa menurunkan level narasi yang kita sampaikan kepada masyarakat di luar negeri, supaya dari isu elit berubah menjadi isu akar rumput, yang relatif bisa dicerna oleh masyarakat secara umum,” jelas Usman. 

Halaman:

Editor: Sutriono

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X