• Selasa, 16 Agustus 2022

Kiai Ageng Henis dan Jejaknya di Laweyan 6: Peluang Orang Luar Keraton untuk Belajar Membuat Batik

- Sabtu, 21 Mei 2022 | 15:10 WIB
Kiai Ageng Henis membangun Kampung Laweyan sebagai sentra pembuat batik. (Kemdikbud.go.id)
Kiai Ageng Henis membangun Kampung Laweyan sebagai sentra pembuat batik. (Kemdikbud.go.id)

harianmerapi.com - Kiai Ageng Henis dan Jejaknya di Laweyan. Batik berasal dari fase Jawa “amba titik” yang artinya adalah menggambar titik.

Penamaan ini searah dengan proses pembuatan batik yang melalui penetesan lilin ke kain putih dengan bunyi tik-tik sehingga jadilah batik.

Perbatikan juga berkaitan dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan kerajaan sesudahnya. Laweyan sebagai daerah pengasil batik mengalami masa kejayaan pada tahun 1900-an hingga 1960.

Baca Juga: Kiai Ageng Henis dan Jejaknya di Laweyan 1: Putra Bungsu Ki Ageng Sela yang Hijrah ke Pengging

Kisah ini ditemukan dalam monografi Kelurahan Laweyan yang mengisahkan perkembangan seni batik di Kampung Laweyan sejak abad 19 dan pada abad inilah Laweyan menjadi desa yang tumbuh dengan canting, kain, dan lilin batik.

Perempuan pun pada masa ini kedudukannya menjadi lebih diakui karena mendapatkan pekerjaan yang luar biasa dan dapat memajukan perekonomian.

Alkisah, batik di Laweyan berassal dari keraton pada masa kepemimpinan Pakubowono II. Membatik dahulunya adalah pekerjaan sambilan bagi putri keraton yang dipersembahkan bagi kekasihnya, yaitu para raja ataupun para kerabat keraton.

Baca Juga: Kiai Ageng Henis dan Jejaknya di Laweyan 2: Berhasil Mengajak Kiai Ageng Beluk Memeluk Agama Islam

Dahulu, raja memilih orang-orang yang pandai membatik untuk berdiam di keraton. Lambat laun, raja pun membutuhkan batik untuk kerabat keraton hingga para hulu balang sehingga raja pun mencari daerah penghasil batik.

Mengatasi hal tersebut, abdi dalem dan kerabat keraton bertugas mengajari orang di luar keraton membuat batik.

Halaman:

Editor: Swasto Dayanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X