• Jumat, 12 Agustus 2022

Ki Ageng Makukuhan Alias Sunan Kedu 11: Petilasannya Masih Menjadi 'Punden' dan Dihormati

- Rabu, 15 Desember 2021 | 08:08 WIB
              Makam Nyi Rantamsari yang sering diziarahi.                   (Dok. Amat Sukandar)
Makam Nyi Rantamsari yang sering diziarahi. (Dok. Amat Sukandar)

harianmerapi.com - Nama Ki Ageng Makukuhan alias Sunan Kedu sangat harum di seluruh wilayah Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro.

Karena dari darma baktinya dalam menyiarkan agama Islam di daerah ini. Hampir semua warga di lereng Gunung Sumbing dan Sindoro mengagungkan namanya, lebih-lebih para muridnya.

Ketika Ki Ageng Makukuhan wafat di desa Kedu, jenazahnya menjadi rebutan para kawula di wilayah Sumbing – Sindoro.

Baca Juga: Bukan Cinta Sejati 1: Awal Perkenalan Dua Insan Lain Jenis yang Tidak Disengaja

Mereka ingin menghormati Ki Ageng Makukuhan dengan merawat dan memakamkannya di tempatnya masing-masing.

Ada yang ingin memakamnya di Gunung Sumbing, dan ada yang ingin memakamnya di Gunung Sindoro. Perebutan jenazah Ki Ageng Makukuhan itu terjadi di Sungai Galeh, yaitu tapal batas antara Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro.

Sehingga, Ki Ageng Bagelen ikut menengahinya agar tidak terjadi perdebatan dalam perebutan jenazah tersebut.

Baca Juga: Cerita Horor Diteror Orang-orangan Sawah karena Buang Air Kecil Tidak Permisi

Akhirnya disepakati, jenazah Ki Ageng Makukuhan akan dimakamkan di Gunung Sumbing. Upacara perawatan jenazah dilakukan para murid di Gunung Sumbing.

Kemudian jenazah Ki Ageng Makukuhan dipikul mendaki ke puncak Gunung Sumbing. Tiba di dekat desa Dekol, para pengusung jenazah merasa lelah dan istirahat sebentar untuk minum. Tempat untuk beristirahat itu, kini disebut desa Ndayan.

Halaman:

Editor: Swasto Dayanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X