• Senin, 24 Januari 2022

Saparan Merti Dusun Krandegan 2: Datang Penari Tayub Ingin Menimba Ilmu

- Minggu, 10 Oktober 2021 | 05:00 WIB
Seorang wanita mengaku ingin bertemu Eyang Dipodrono (Ilustrasi Pramono Estu)
Seorang wanita mengaku ingin bertemu Eyang Dipodrono (Ilustrasi Pramono Estu)

KARENA gentur dalam bersemedi Eyang Dipodrono menjadi orang yang memiliki kelebihan dalam olah kebatinan maupun olah kanuragan.

Sehingga nama Eyang Dipodrono makin lama makin termasyhur di kawasan lereng Gunung Sumbing ini, dan semakin banyak orang yang nyantrik atau berguru kepadanya.

Pada awalnya di dusun Krandegan ini hanya dihuni oleh tujuh kepala keluarga. Namun semakin lama jumlah warga di dusun Krandegan ini semakin bertambah dan berkembang dengan mata pencaharian utama sebagai petani sayur-mayur dan palawija.

Baca Juga: Mensyukuri Nikmat 16: Baru Terasa Setelah Ibu Tiada

Kemasyhuran Eyang Dipodrono sampai di dengar oleh orang luar daerah. Sehingga, pada suatu hari ada seorang wanita yang mencari tokoh Krandegan itu.

Ketika wanita itu sampai di dusun ini dan ditanya warga, dia mengaku seorang “tledhek” atau penari tayub dari daerah Yogyakarta. Dia ingin bertemu dengan Eyang Dipodrono untuk nyantrik, menimba ilmu kebatinan, olah seni dan olah kanuragan.

Namun, sebelum dia dapat bertemu dengan Eyang Dipodrono di padepokannya, wanita tledhek itu meninggal dunia. Jenazahnya oleh Eyang Dipodrono dan warga Krandegan dimakamkan di dusun itu.

Baca Juga: Misteri Gundul Pringis Gentayangan di Kali Tempukan

Sampai kini warga dusun ini tidak tahu, siapa sebenarnya tledhek atau penari tayub itu. Meski makam tledhek itu berada di dusun ini.

Salah satu sudut dusun Krandegan (Dok Amat Sukandar)

Halaman:

Editor: Swasto Dayanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X