• Sabtu, 4 Desember 2021

Mensyukuri Nikmat 16: Baru Terasa Setelah Ibu Tiada

- Sabtu, 9 Oktober 2021 | 20:00 WIB
Yani sering merenung sambil mmandani foto ibunya.       (Ilustrasi Sibhe)
Yani sering merenung sambil mmandani foto ibunya. (Ilustrasi Sibhe)

KEHILANGAN sosok seorang ibu benar-benar dirasakan Yani. Sekarang ia baru terasa, betapa pentingnya seorang ibu setelah ditinggalkan Bu Warjo.

Sebelumnya Yani memang lebih banyak mengandalkan ibunya itu untuk berbagai urusan di rumah. Bahkan setelah menikah dengan Purbo, sifat kekanak-kanakan Yani masih kental.

Dari urusan kecil seperti mencuci piring, hingga masalah yang lebih penting dalam mengelola keuangan, Yani sering banyak bergantung pada ibunya.

Baca Juga: Mensyukuri Nikmat 1: Suka Berdandan dan Berganti-ganti Pacar

Kini empat puluh hari sejak meninggalnya Bu Warjo, Yani masih seperti layang-layang putus dari benangnya. Tak tahu apa yang harus dilakukannya, sehingga lebih sering bengong merenungi nasibnya sambil memandangi foto ibunya.

Terlebih lagi jika teringat, bahwa suaminya sekarang bukan hanya miliknya seorang. Purbo harus kesana-kemari lantaran istri keduanya, Darti, memerlukan pendamping dalam merawat kandungannya.

Memang Yani masih punya ayah, namun tentu perannya jauh berbeda dengan sang ibu. Pak Warjo lebih sebagai sosok yang disegani sehingga Yani kadang ada rasa takut jika melakukan komunikasi.

Baca Juga: Mensyukuri Nikmat 2: Mencari Istri dengan Pertimbangan Harta

Berbeda dengan Bu Warjo yang bisa menjadi sahabat sekaligus pengayom setiap kali Yani merasa perlu menyampaikan suara hatinya. Bersama Bu Warjo, Yani bisa bermanja-manja dan menyampaikan keluh kesahnya.

Sekarang tempat untuk bersandar itu telah tiada. Sosok ibu yang selalu melindungi dan membimbing dirinya, tiba-tiba hilang saat dirinya belum siap untuk mandiri. Sebagai anak tunggal, sifat manja Yani pun tak bisa hilang sampai dirinya menikah dengan Purbo.

Halaman:

Editor: Swasto Dayanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X