• Minggu, 3 Juli 2022

Mensyukuri Nikmat 9: Mencoba Mengelak dari Kenyataan

- Selasa, 5 Oktober 2021 | 08:00 WIB
Pak Warjo minta Purbo untuk tidak jadi pengecut. (Ilustrasi Sibhe)
Pak Warjo minta Purbo untuk tidak jadi pengecut. (Ilustrasi Sibhe)

SEBAGAI orangtua, Pak Warjo harus bisa bertindak bijaksana di tengah situasi yang sangat pelik seperti sekarang ini. Yang pertama dilakukannya adalah menahan emosi. Ia harus sabar, agar bisa bicara dengan bijaksana.

"Benar Purbo, apa yang dikatakan nak Darti?" tanya Pak Warjo.

Purbo hanya bisa menundukkan kepalanya semakin dalam. "Darti dulu memang pacar saya, Pak. Tapi soal kehamilan, saya sebenarnya tidak tahu sama sekali," kata Purbo pelan.
"Tidak tahu bagaimana?" yanya Pak Warjo lagi.

Baca Juga: Almari Kuna Menyimpan Misteri Soal Bocah Bengal yang Bernasib Sial

"Jangan mengelak kalau kehamilanku bukan akibat perbuatanmu lho Mas," sela Darti dengan lantang, karena ia khawatir Purbo akan mengelak bahwa ia yang telah menghamilinya.

"Sabar nak Darti, biar Purbo menjawab pertanyaanku dulu," kata Pak Warjo.
"Memang seperti itu yang saya maksudkan. Kami memang sempat berpacaran, tapi bukan berarti pasti aku yang ayah dari bayi itu," kata Purbo.

"Nah, benar to. Ternyata kamu pengecut Mas," kata Darti yang makin emosi mendengar ucapan Purbo.
"Sabar, sabar, jangan emosi dulu," Pak Warjo mencoba menenangkan situasi.

Baca Juga: Mensyukuri Nikmat 8: Rahasia Terbongkar di Mata Keluarga Istri

"Maaf Pak, kalau Mas Purbo tidak mau tanggung jawab, saya tidak bisa terima. Ini jelas-jelas hasil perbuatanmu, bagaimana mungkin kamu bisa bicara seperti itu Mas?" kata Darti sambil menunjuk-nunjuk muka Purbo.

Purbo sendiri dalam situasi kepepet, memang masih mencoba untuk berkelit. Sudah tentu ia tak ingin menghancurkan masa depannya sendiri, jika harus bertanggung jawab atas kehamilan Darti.

Halaman:

Editor: Swasto Dayanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X