• Sabtu, 29 Januari 2022

Mensyukuri Nikmat 6: Mantan Pacar Hamil Minta Tanggung Jawab

- Minggu, 3 Oktober 2021 | 20:00 WIB
Yani kaget mendengar pembicaraan Purbo dengan Darti soal kehamilannya. (Iustrasi Sibhe)
Yani kaget mendengar pembicaraan Purbo dengan Darti soal kehamilannya. (Iustrasi Sibhe)

PADA awalnya pembicaraan Purbo dengan Darti biasa saja, layaknya dua orang yang sudah lama tak ketemu. Namun pelan-pelan Darti mengarahkan pembicaraan yang sangat pribadi dengan nada yang pelan, seolah takut orang lain mendengarkan.

Yani yang semula tak ingin mendengarkan pembicaraan mereka lebih jauh, menjadi penasaran dan tidak jadi beranjak dari tempatnya berdiri di balik pintu.

"Mas, sebenarnya kedatanganku ke sini untuk membicarakan hal yang sangat penting," kata Darti.
"Soal apa itu?' tanya Purbo dengan perasaan cemas.
"Soal tanggung jawab Mas Purbo."

Baca Juga: Misteri Tujuh Bajangkerek 1: Mancing di Bawah Pohon Beringin Tiba-tiba Kepala Pusing

"Tanggung jawab bagaimana? Sekarang saya sudah punya istri, sebaiknya kita tidak usah berhubungan lagi. Kita lupakan saja masa lalu."
"Lho kok gitu Mas. Kamu sudah berani berbuat ya harus mau tanggungjawab."

"Dulu kita lakukan suka sama suka, jadi apa yang harus aku pertanggungjawabkan?" tanya Purbo setengah berbisik, meski lamat-lamat masih bisa didengar Darti.
"Ini Mas....ini yang harus dipertanggungjawabkan," kata Darti sambil memegang perutnya.
"Apa maksudmu?" tanya Purbo dengan wajah memucat.

Darti kemudian mengambil secarik kertas dari dalam tasnya dan disodorkan ke muka Purbo. "Ini baca sendiri. Surat keterangan dari dokter kandungan."

Baca Juga: Kejujuran Membawa Nikmat 30: Hidup Berkecukupan Namun Tak Suka Bermewah-mewah

Dengan tangan gemetar Purbo menerima kertas itu dan dibacanya, tertera dengan jelas bahwa Darti sudah hamil 11 minggu. Seketika wajah Purbo berubah pucat pasi tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Ini benar surat punyamu?" tanya Purbo.
"Masak aku bohong sih Mas. Kalau masih belum percaya, ayo kuajak ke dokternya langsung."

Purbo pun hanya bisa termenung. Sementara di balik pintu, Yani lebih kaget lagi. Seketika itu badannya lemas dan tak berdaya. Matanya jadi gelap dan tak kuasa lagi badannya ngelumbruk jatuh ke lantai dengan suara berdebum. Pingsan. (Bersambung)

Halaman:

Editor: Swasto Dayanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X