Lima syarat taubat nasuha, salah satu diantaranya bertekad untuk tidak mengulangi dosa

- Minggu, 20 November 2022 | 05:30 WIB
Dr. H. Khamim Zarkasih Putro, M. Si. (Dok. Pribadi)
Dr. H. Khamim Zarkasih Putro, M. Si. (Dok. Pribadi)

HARIAN MERAPI - Secara bahasa, taubat bermakna kembali, artinya seseorang telah kembali kepada Allâh dengan melepaskan hati dari belenggu yang membuatnya terus-menerus melakukan dosa lalu melaksanakan semua hak Allâh Azza wa Jalla.

Sedangkan secara Syar’i, taubat adalah meninggalkan dosa karena takut pada Allâh, menganggapnya buruk, menyesali perbuatan maksiatnya, bertekad kuat untuk tidak mengulanginya, dan memperbaiki apa yang mungkin bisa diperbaiki kembali dari amalnya.

Hakikat taubat yaitu perasaan hati yang menyesali perbuatan maksiat yang sudah terjadi, lalu mengarahkan hati kepada Allâh Azza wa Jalla pada sisa usianya serta menahan diri dari dosa.

Baca Juga: Lima profil manajerial pembelajaran inklusi di Indonesia

Melakukan amal shaleh dan meninggalkan larangan adalah wujud nyata dari taubat.

Seorang muslim akan berusaha terus melakukan hal itu agar rasa takut dan optimismenya kepada Allâh semakin menguat dalam hatinya.

Dengan demikian, ia berdoa senantiasa kepada Allâh Azza wa Jalla dengan penuh harap dan cemas agar Allâh Azza wa Jalla berkenan menerima taubatnya, menghapuskan dosa dan kesalahannya.

Taubat yang diperintahkan Allâh Azza wa Jalla adalah taubat nasuha (yang tulus) yang mencakup lima syarat;

Pertama, hendaknya taubat itu dilakukan dengan ikhlas, artinya taubat yang mendorong seseorang untuk meningkatkan kecintaannya kepada Allâh Azza wa Jalla, pengagungannya terhadap Allâh, harapannya untuk pahala disertai rasa takut akan tertimpa adzab-Nya.

Ia tidak menghendaki dunia sedikitpun dan juga bukan karena ingin dekat dengan orang-orang tertentu.

Baca Juga: Landasan filosofis utama penerapan pendidikan inklusi di Indonesia

Jika ini yang dia inginkan maka taubatnya tidak akan diterima.

Karena ia belum bertaubat kepada Allâh Azza wa Jalla namun ia bertaubat demi mencapai tujuan-tujuan dunia yang dia inginkan.

Kedua, menyesali serta merasa sedih atas dosa yang pernah dilakukan, sebagai bukti penyesalan yang sesungguhnya kepada Allâh dan luluh dihadapan-Nya serta murka pada hawa nafsunya sendiri yang terus membujuknya untuk melakukan keburukan.

Taubat seperti ini adalah taubat yang benar-benar dilandasi akidah, keyakinan dan ilmu.

Halaman:

Editor: Swasto Dayanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Keteladanan Nabi Ibrahim AS sebagai Abul Anbiya

Rabu, 8 Februari 2023 | 10:26 WIB

Tujuan Allah SWT menciptakan alam semesta

Selasa, 7 Februari 2023 | 06:24 WIB

Sikap Muslim terhadap Al Qu’ran

Rabu, 1 Februari 2023 | 06:17 WIB
X