• Jumat, 12 Agustus 2022

Namimah, Dosa Lisan yang Sangat Dicela dalam Al Quran dan Hadits

- Senin, 8 November 2021 | 05:00 WIB
Dr. H. Khamim Zarkasih Putro, M.Si. (Dok. Pribadi)
Dr. H. Khamim Zarkasih Putro, M.Si. (Dok. Pribadi)

harianmerapi.com - Membicarakan kejelekan orang lain itu ada tiga tingkatan yang kesemuanya tentu saja sangat dibenci oleh manusia, dan sedapat mungkin dihindari dan dijauhi.

Allah pun bahkan sangat membenci penggunjing ini dengan memberikan perumpamaan bahwa mereka seperti memakan bangkai saudaranya yang telah mati. Ketiga tingkatan itu adalah; pertama, Ghibah, yakni menyebutkan sesuatu yang terdapat pada diri seorang muslim, sedang ia tidak suka (jika hal itu disebutkan).

Kedua, fitnah, yakni merupakan komunikasi kepada satu orang atau lebih yang bertujuan untuk memberikan stigma negatif atas suatu peristiwa yang dilakukan oleh pihak lain berdasarkan atas fakta palsu yang dapat mempengaruhi penghormatan, wibawa, atau reputasi seseorang.

Baca Juga: Rezeki Mengalir Setelah Mengantar Perempuan Misterius Baju Putih

Ketiga, namimah yakni menyebutkan perkataan seseorang pada orang lain dengan maksud untuk merusak hubungan persahabatan keduanya yang akan dikaji pada tulisan hari ini.

Namimah adalah termasuk di antara dosa lisan yang sangat dicela dalam Al-Quran dan hadits. Namimah tidak terbatas hanya dengan ucapan saja, melainkan juga mencakup penyampaian berupa tulisan dan isyarat.

Mengungkapkan beberapa masalah yang orang tidak ingin orang lain ketahui juga disebut namimah. Orang yang bermaksud menghancurkan persahabatan seseorang, dengan
menyebutkan perkataan seseorang pada orang lain dengan cara menghasut, disebut namimah.

Baca Juga: Pernikahan yang Tak Direstui 11: Menyaksikan Istri Selingkuh di Hotel

Namimah dalam bahasa Indonesia biasa disebut adu domba, bergosip, ujaran kebencian dan menyebar fitnah. Namimah adalah salah satu dosa besar dan diharamkan. Dailami dalam kitab Irsyad al-Qulub menyebutkan namimah sebagai dosa yang lebih besar dari ghibah.

Allamah Hilli mengatakan bahwa seorang komandan perang tidak boleh mengikutsertakan seorang namim dalam perang dan jika seorang namim ikut dalam pasukan perang, ia tidak diperbolehkan mendapatkan bagian dari rampasan perang.

Halaman:

Editor: Swasto Dayanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X