Muhasabah menuju masa depan lebih baik

- Selasa, 25 Oktober 2022 | 05:30 WIB
Dr. H. Khamim Zarkasih Putro, M. Si, Ketua Pusat Studi KIP3MK UIN Suka (Dok Pribadi)
Dr. H. Khamim Zarkasih Putro, M. Si, Ketua Pusat Studi KIP3MK UIN Suka (Dok Pribadi)

HARIAN MERAPI - Muhasabah berasal dari kata hasibah yang artinya menghisab atau menghitung.

Dalam penggunaan katanya, muhasabah diidentikkan dengan menilai diri sendiri atau mengevaluasi diri, ngulat sariro atau introspeksi diri.

Firman Allah dalam QS Al-Hasyr (59) : 18 secara tersirat memberikan perintah untuk senantiasa melakukan muhasabah supaya masa depan atau hari esok akan lebih baik.

Baca Juga: Tujuh perlakuan orangtua yang tidak tepat kepada anak, diantaranya terlalu melindungi

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiapb diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”

Hari berganti hari, demikian juga dengan bulan dan tahun, bahkan abad. Kalau kita memperhatian pergantian waktu ini, sesungguhnya kehidupan dunia makin lama makin menjauh sedang pada kesempatan yang sama kehidupan akhirat makin mendekat.

Itulah perlunya muhasabah, supaya masa depan kita (akhirat) lebh baik dari masa sekarang (dunia), sebagaimana pesan QS Ad-Duhaa (93) : 4: “Dan sesungguhnya hari kemudian tu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan)”.

Orang yang beriman harus melakukan muhasabah pada keseluruhan aspek hidupnya, baik yang berhubungan dengan Allah (ubudiyah) maupun hubungan dengan sesama manusia (muamalah) yang mengandung nilai ibadah, sebagaimana Firman-Nya:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” {QS. Adz-Dzariyat (51): 56}.

Baca Juga: Dakwah Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat untuk seluruh alam

Halaman:

Editor: Swasto Dayanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sikap Muslim terhadap Al Qu’ran

Rabu, 1 Februari 2023 | 06:17 WIB
X