• Sabtu, 13 Agustus 2022

Sikap Seorang Muslim dalam Menghadapi Musibah, yang Pertama Mengucap Kalimat Istirja

- Senin, 27 Juni 2022 | 05:30 WIB
Dr. H. Khamim Zarkasih Putro, M. Si. (Dok. Pribadi)
Dr. H. Khamim Zarkasih Putro, M. Si. (Dok. Pribadi)

harianmerapi.com - Musibah merupakan kejadian yang datang atas ketentuan Allah SWT dan tidak bisa ditolak oleh siapapun.

Upaya untuk menghindari musibah tidak hanya melakukan pencegahan saja, seperti mencegah datangnya penyakit, tetapi juga pada tingkat penanggulangannya.

Pandemi Covid-19 yang menimpa manusia di seluruh penjuru dunia misalnya, kita harus segera mencari solusi terbaiknya.

Baca Juga: Pengembangan Kreativitas dan Etos Kerja Anak Sejak Dini: Antara Al Qur’an dan N-Ach Theory David McClelland

Musibah tidah membedakan sasaran yang dikenainya, dapat menimpa manusia yang shaleh atau manusia yang biasa berbuat maksiat.

Jika orang shaleh mendapatkan musibah, maka dipandang sebagai penguji keimanan (cobaan), sebagaimana firman-Nya:

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: Kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi ? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”. (QS. Al-Ankabut:2-3).

Sedangkan jika musibah menimpa orang yang biasa berbuat maksiat, maka diartikan sebagai siksaan atau pembalasan terhadap perbuatannya.

Firman Allah SWT : “Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi sehingga mereka dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka..” (QS. Muhammad, 47:10).

Islam telah memberikan tuntutan bagaimana seharusnya sikap seorang muslim mengahadapi musibah yang menimpanya;

Halaman:

Editor: Swasto Dayanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X