• Rabu, 17 Agustus 2022

Kerusuhan di Babarsari, Mengapa Terjadi, Begini Pendapat Sosiolog UGM

- Rabu, 6 Juli 2022 | 07:00 WIB
Polisi melakukan olah tempat kejadian perkara kericuhan di Babarsari, Sleman, D.I. Yogyakarta, Senin (4-7-2022). Kericuhan antara dua kelompok masyarakat tersebut merupakan buntut kasus penganiayaan di sebuah tempat karaoke di Babarsari.  (ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah)
Polisi melakukan olah tempat kejadian perkara kericuhan di Babarsari, Sleman, D.I. Yogyakarta, Senin (4-7-2022). Kericuhan antara dua kelompok masyarakat tersebut merupakan buntut kasus penganiayaan di sebuah tempat karaoke di Babarsari. (ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah)


JOGJA, harianmerapi.com - Munculnya kerusuhan di Babarsari Depok Sleman beberapa hari lalu terjadi karena pola pertumbuhan provinsi yang mengarah metropolis.


Demikian analisa yang disampaikan Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Derajad Sulistyo Widhyharto di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UGM, Yogyakarta, Selasa (5/7).


Ia menilai munculnya kasus kerusuhan seperti di Babarsari, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin (4/7), karena pola pertumbuhan di provinsi ini sudah menyerupai kota metropolis.

Baca Juga: Antisipasi Lonjakan Kasus Covid-19, Pemerientah Gencarkan Vaksinasi Booster

"Wilayah Yogyakarta itu istimewa tetapi regulasinya tidak istimewa. Regulasinya seperti perkembangan kota Jakarta, Surabaya, dan lain-lain. Provinsi ini tidak tumbuh istimewa seperti masyarakatnya, seperti keratonnya, jadi ini tumbuh seperti kota metropolis," kata Derajad .

Sebagai kota pelajar, menurut Derajad, Yogyakarta sebenarnya butuh ketenangan.

Menurut dia, yang perlu diperbanyak adalah fasilitas-fasilitas mahasiswa, seperti penyediaan co-working space, bukan justru fasilitas yang dapat mengundang konflik.

Baca Juga: Pendaftaran Kartu Prakerja Gelombang 35 Dibuka, Ayo Buruan Daftar, Ini Syaratnya

"Akan tetapi, kalau yang tumbuh kemudian adalah karaoke, hotel-hotel, apartemen 'kan tidak ada bedanya dengan Jakarta, Surabaya, dan lain-lain," kata dia.

Regulasi yang ada di Yogyakarta, kata dia, semestinya harus terefleksi dari kondisi masyarakat, misalnya terkait dengan jam belajar di Yogyakarta yang kini tidak berlaku lagi.

Halaman:

Editor: Hudono

Sumber: Antara

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X