• Sabtu, 4 Desember 2021

Kejujuran Membawa Nikmat 3: Pertimbangan Mengadopsi Anak untuk Pancingan

- Sabtu, 28 Agustus 2021 | 07:16 WIB
Parno selalu kepikiran untuk mengadopsi anak. (Ilustrasi Sibhe)
Parno selalu kepikiran untuk mengadopsi anak. (Ilustrasi Sibhe)

BERBAGAI upaya telah dilakukan Parno dan Dina, agar bisa segera memperoleh keturunan. Baik itu secara medis, maupun cara-cara yang lainnya. Menurut dokter, keduanya sebenarnya tidak mengalami masalah.

Namun yang membuat Parno tidak habis pikir, lima tahun usia pernikahan mereka belum juga ada tanda-tanda Dina bakal hamil.

"Cobalah kamu adopsi anak, kata orang tua itu bisa menjadi pancingan agar nanti istrimu bisa hamil," kata Gito (bukan nama sebenarnya), teman sekantor Parno saat mereka tengah ngobrol santai.

Baca Juga: Duel Tuyul Lawan Tuyul 1: Penghasilan Berkurang Jauh Sejak Masa Pandemi

Ucapan Gito itupun merasuk ke pikiran Parno, hingga terbawa kemanapun dia pergi. Baik di kantor, di jalan, apalagi di rumah, saat bercengkerama dengan Dina.

"Apa benar, jika kita mengadopsi anak, Dina bisa hamil ya mas?" tanya Dina.
"Mas juga tidak yakin, tapi kata orang-orang memang begitu."

Guna meyakinkan pendapat tersebut, Parno berinisiatif mengajak Dina untuk berkonsultasi ke dokter. Namun dokter tidak memberi jawaban yang pasti.

Baca Juga: Bisikan dari Sukun Growong 1: Hidup Sebatang Kara Merasa Nasibnya Buruk

"Secara medis tidak membuktikan mengadopsi anak akan memancing si ibu untuk cepat hamil," kata dokter.

Penjelasan itu sempat membuat Parno agak ragu. Namun rupanya Dina benar-benar sudah ingin menimang bayi. Upayanya bekerja untuk mengisi kesibukan tetap saja tak bisa menghapus rasa kesepiannya. Terlebih lagi ada rasa malu, setiap disapa orang dengan perkataan, "Belum punya momongan ya?"

Halaman:

Editor: Swasto Dayanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X