• Kamis, 26 Mei 2022

Mataram Islam Paska Panembahan Senopati 5: Wafat di Krapyak Dijuluki Secara Anumerta Panembahan Seda Krapyak

- Minggu, 23 Januari 2022 | 11:00 WIB
Panembahan Seda Krapyak dikenal suka berburu. (Ilustrasi Pramono Estu)
Panembahan Seda Krapyak dikenal suka berburu. (Ilustrasi Pramono Estu)

harianmerapi.com - Selama memimpin Mataram Islam, Prabu Hanyakrawati mengalami dua kali pemnerontakan, dari Demak dan Ponorogo. Hal ini memaksa Prabu Hanyakrawati atau Panembahan Seda Krapyak harus mengambil sikap lebih tegas lagi.

Menurut sejumlah kisah, Panembahan Seda Krapyak kemudian menyampaikan pidato yang sangat keras dalam ritual Siniwaka pada hari Senin yang ditujukan kepada seluruh keluarga kerajaan beserta para bupati.

Dalam pesan itu Raja menegaskan kraman merupakan perbuatan yang memalukan, terlebih bagi keturunan Panembahan Senopati.

Baca Juga: Cerita Mistis Jadi Korban Ritual Mencari Pesugihan Kandang Bubrah karena Salah Menyediakan Sesaji

Karena tidak mencerminkan sikap seorang kesatria Mataram. Barang siapa masih melakukan perbuatan melanggar paugeran kerajaan membuat rongrongan atas kedaualatan sang Nata, akan dijatuhi hukuman berat.

Setelah peristiwa itu, Mataram Islam di bawah kendali Prabu Hanyakrawati relatif stabil dalam menjalankan roda pemerintahan.

Bahkan dari berbagai sumber kisah tutur memberikan cerita, adanya pengiriman pasukan tempur sejumlah 150.000 dari Mataram menuju ke Surabaya.

Prabu Hanyakrawati juga dikenal pemberani sebagai mana Panembahan Senapati, sehingga pemberangatan pasukan ke Surabaya boleh jadi dimaksudkan untuk invasi dalam upaya perluasan wilayah Mataram.

Baca Juga: Kekayaan Bukan Segalanya 4: Kecemasan Orang Tua, Anak Tak Punya Waktu untuk Keluarga dan Urusan Pribadi

Selain itu, Surabaya ketika itu menjadi salah satu pusat kegiatan VOC dalam upaya menguasai Jawa dari arah Timur.

Halaman:

Editor: Swasto Dayanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X