• Kamis, 18 Agustus 2022

Berbagai Upaya Membangun Keluarga Samara, Salah Satunya Berdasarkan Batas-batas Ketentuan Allah SWT

- Kamis, 2 Juni 2022 | 05:45 WIB
Dr. H. Khamim Zarkasih Putro, M. Si. (Dok. Pribadi)
Dr. H. Khamim Zarkasih Putro, M. Si. (Dok. Pribadi)

harianmerapi.com - Tercapainya tujuan perkawinan yakni membentuk keluarga yang sakinah mawaddah dan rahmah sangat ditentukan oleh proses sebelum perkawinan yakni saat pemilihan jodoh.

Memilih jodoh hendaklah yang sekufu, artinya kondisi fisik, psikologis, sosial ekonomi, pendidikan, kedewasaan dan pengalaman beragama memiliki kesetaraan serta kesejajaran.

Meskipun disadari sepenuhnya bahwa untuk mendapatkan pasangan yang ideal seperti ini bukanlah merupakan sesuatu yang mudah, mengingat masih besarnya
kesenjangan cara pandang tentang kehidupan yang ada dalam masyarakat.

Baca Juga: Kejadian Mistis Saat Tenggelam di Kolam Renang, Tiba-tiba Ada Tangan Misteri yang Menolong

Suami dan istri secara bersama-sama bertanggung jawab atas terciptanya keluarga Samara (sakinah, mawaddah wa rahmah) yang merupakan modal utama terciptanya masyarakat yang damai, aman dan penuh nuansa kebersamaan.

Untuk membangun keluarga Samara, dalam buku yang berjudul Fondasi Keluarga Sakinah, Bacaan Mandiri Calon Pengantin yang diterbitkan oleh Ditjen Bimas
Kementrerian Agama Republik Indonesia dijelaskan ada beberapa prinsip dalam perkawinan untuk menuju keluarga samara; yaitu:

Pertama, berdasarkan batas-batas yang ditentukan Allah SWT. Terkaita dengan perkawinan dan keluarga Allah SWT telah memberikan batas-batas sebagai berikut :
(1) larangan menggauli istri saat i’tikaf di masjid (QS. Al-Baqarah; 2:187), (2) perselisihan suami-istri (QS. Al-Baqarah; 2:229),

(3) thalaq ba’in (QS. Al-Baqarah; 2:230), (4) Waris (QS. An-Nisya’; 4:13-14), (5) sumpah dhihar (QS. Al-Mujadilah; 58:4) dan (6) Perceraian (QS. Ath-Thalaq; 65:1).

Baca Juga: Cerita Lucu Petugas Pendaftaran Bingung dengan Nama Pakde dan Anak TK Bicara Soal Puasa Manuk

Kedua, saling rela (ridho). Allah SWT menyebutkan prinsip ini tentang bolehnya mantan istri setelah habis masa idah untuk menikah dengan laki-laki lain jika keduanya saling rela (QS. Al-Baqarah; 2:232),

Halaman:

Editor: Swasto Dayanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X