• Rabu, 19 Januari 2022

Kaum Perempuan Paling Rentan Terjerat Pinjol

- Sabtu, 9 Oktober 2021 | 09:30 WIB
Ilustrasi - Sejumlah anak bermain di dekat mural mengenai pinjaman online di kawasan Tempurejo, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (7/9/2021). Mural tersebut sebagai sarana imbauan kepada masyarakat terhadap bahaya pinjaman daring atau 'online' (pinjol) ilegal yang sekarang lagi marak.  (ANTARA FOTO/Didik Suhartono)
Ilustrasi - Sejumlah anak bermain di dekat mural mengenai pinjaman online di kawasan Tempurejo, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (7/9/2021). Mural tersebut sebagai sarana imbauan kepada masyarakat terhadap bahaya pinjaman daring atau 'online' (pinjol) ilegal yang sekarang lagi marak. (ANTARA FOTO/Didik Suhartono)

JOGJA, harianmerpai.com - Kaum perempuan menjadi kelompok paling yang rentan terjerat pinjaman online atau Pinjol. Apalagi ditambah situasi pandemi Covid-19 yang serba sulit saat ini.

“Kenapa perempuan? Karena di masa normal saja perempuan sudah rentan dan pandemi semakin menambah beban perempuan,” kata Dosen Sosiologi FISIPOL UGM, Wahyu Kustiningsih, S.So., M.A. dalam keterangannya, Kamis (7/10/2021).

Wahyu mengatakan saat pandemi tidak sedikit perempuan, terutama ibu rumah tangga yang harus menerima kenyataan suaminya yang bekerja di sektor informal menurun pendapatannya. Sementara itu kebutuhan hidup terus meningkat.

Baca Juga: Wayang Jogja Night Carnival Tak Kalah dengan Karnaval Kelas Dunia

“Selain mengurus domestik perempuan juga mendamping anak sekolah dari rumah dan belum lagi kalau yang juga bekerja. Di sisi lain suami pendapatannya menurun akibat pandemi dan ada yang kena PHK, sementara kebutuhan tidak menurun tetapi terus naik,” paparnya.

Kondisi tersebut menjawab mengapa mayoritas perempuan, terutama di pedesaan menjadi korban Pinjol. Mereka mau tidak mau mengambil jalan pintas melalui Pinjol yang memberikan pinjaman dengan persyaratan dan ketentuan yang mudah dan cepat proses pencairan dananya. Berbeda dengan mengambil pinjaman di bank dengan persyaratan dan proses pengajuan yang tergolong rumit dan memakan waktu panjang.

“Dalam kondisi keterdesakan ekonomi yang dipilih masyarakat jalan pintas untuk menyambung hidup,” katanya.

Wahyu mengatakan saat sudah terjerat pinjol, biasanya perempuan tidak lepas dari adanya pelabelan atau stigma dari masyarakat. Beberapa stigma yang kerap muncul antara lain dianggap tidak mampu mengelola keuangan dengan baik, dianggap konsumtif, tukang utang dan lainnya. Stigmatisasi yang muncul tersebut menjadikan perempuan korban Pinjol tertekan hingga bunuh diri karena tidak kuat menahan malu.

Baca Juga: Banyak Remaja Lakukan Self Diagnose Kesehatan Mental Hanya Lewat Internet, Ini Bahayanya

Halaman:

Editor: Sutriono

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Duet Pengedar Tembakau Gorila Diringkus BNNP DIY

Minggu, 16 Januari 2022 | 15:50 WIB
X