• Jumat, 22 Oktober 2021

Saparan Merti Dusun Krandegan 5: Kesenian Rakyat Sandul Sunti Masih Lestari

- Kamis, 14 Oktober 2021 | 06:00 WIB
Kesenian Sandul Sunti masih dilestarikan. (Ilustrasi Pramono Estu)
Kesenian Sandul Sunti masih dilestarikan. (Ilustrasi Pramono Estu)

DUSUN Krandegan bertetangga dengan lokawisata ‘Nepal van Java’ desa Butuh, berjarak sekitar 15 kilometer dari kawah Gunung Sumbing.

Di sini ada padepokan seni ‘Cahya Budaya Sumbing’ yang berdiri 24 tahun yang lalu. Menurut tokoh seniman Sarwo Edi, kesenian rakyat di sini masih lestari bahkan berkembang.

Kesenian klasik yang masih lestari di sini adalah ‘Sandul Sunti’. Kesenian ini pemainnya para generasi tua dengan usia antara 45 sampai 90 tahun.

Baca Juga: Mensyukuri Nikmat 24: Istri Pertama Syukuran Menyambut Kehamilan

“Keunikan kesenian ini, dalam pementasannya melantunkan tembang yang harus lengkap urutannya dari awal sampai akhir dan tidak boleh disingkat,” jelas Sarwo Edi.

Karena inti kesenian ini berisi pitutur luhur yang sarat pendidikan budi pekerti. Kesenian lainnya adalah Ketoprak, Karawitan, Dayakan, Lengger, Topeng Ireng, Jatilan, Kuda Lumping, Beksan Wanara, Soreng, Geculan dan Warokan.

Seni suara seperti Slawatan Jawa ‘Wulang Reh’, Sholawat Nurul Qulub, Ayun-ayun, Pitutur Jati dan kesenian yang bernafaskan Islami adalah Rebana, Barzanji, Singiran Ngako’ib. Jumlah seniman di dusun ini tidak kurang dari 600 orang.

Baca Juga: Main Drama Soal Pocong, Eh Pocong Beneran Malah Datang

Sarwo Edi, perangkat desa Sukomakmur yang juga ketua Padepokan Seni ‘Cahya Budaya Sumbing” menjelaskan, di dusun ini ada gending ladrang khas Krandegan yaitu gending-gending ‘Jagung Kuning’, ‘Lung Kuning’, ‘Sekar Gadung’, ‘Lung Gadung’, ‘Lur

Kilir Kilur Kumbang’. Ada lagi gending khusus untuk ritual yaitu gending ladrang ‘Ganda Wijaya’. Gending ini ditabuh untuk mengawali acara Saparan. Alunan suara gending Ganda Wijaya ini konon bisa untuk memanggil roh yang bisa merasuki pada orang yang telah bersedia menjadi ‘mediator’. Setelah roh yang diundang itu ‘masuk’ ke badan orang mediator, bisa diajak wawan wicara.

Halaman:

Editor: Swasto Dayanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Anakku Mau Diambil Perempuan Penghuni Rumah Kuna

Jumat, 22 Oktober 2021 | 12:05 WIB

Mensyukuri Nikmat 41: Mimpi Meraih Cita-cita

Rabu, 20 Oktober 2021 | 06:28 WIB

Misteri Suara 'Tulung...Tulung....' di Ujung Kampung

Selasa, 19 Oktober 2021 | 14:40 WIB

Mensyukuri Nikmat 39: Tersingkir dari Rumah Sendiri

Selasa, 19 Oktober 2021 | 12:00 WIB
X