• Selasa, 16 Agustus 2022

Ritual Pisungsung Gunung, Pageblug Rampung 2: Harapan Sebuah Kebahagiaan Hidup di Dunia dan Akherat

- Senin, 13 September 2021 | 08:00 WIB
                     Uba rampe sesaji dalam ritual.            (Foto: Amat Sukandar)
Uba rampe sesaji dalam ritual. (Foto: Amat Sukandar)

MEMAKNAI ubarampe sesaji dalam Ritual Pisungsung Gunung ini sebagai wujud rasa syukur dan persembahan yang merupakan doa tanpa kata-kata yang ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Yang Menciptakan Alam Semesta.

Harapan yang disampaikan dengan persembahan sesaji ini adalah sebuah kebahagiaan hidup di dunia dan di akherat. Dalam pemahaman mereka, sesaji adalah doa tanpa kata-kata, doa yang diwujudkan dengan benda-benda yang bermakna simbolis.

Ki Reksajiwa menjelaskan, pemasangan “janur kuning” (daun muda pohon aren/enau) pada gapura menuju ke padepokan tersebut bermakna simbolis untuk memohon pengampunan kepada Gusti Sing Akarya Jagad.

Baca Juga: Produk Sarung Tenun 'Saqbe Mandar' Jadi Pakaian Kegiatakan Formal Pemerintah Sulbar

Kata “janur” akronim dari kata-kata “memuja nur”. Nur yang berarti Cahaya Illahi. Dan “kuning,” dari kependekan kata “lakune sing wening.” Sawen yang dipasang terdiri dari janur kuning, alang-alang dan ‘godhong tawa’ (daun dadap srep).

Sawen ini mengandung arti, dengan laku yang ‘wening’ (bening), akan terbebas dari rintangan dan tawar dari ‘dora wisa’ (dora berarti kebohongan, dan wisa bermakna bisa, penyakit). Sesaji bermacam-macam ‘empon-empon’ khususnya kencur, mempunyai makna dunia ini agar bisa ‘kencar-kencar,’ (terang benderang) ‘kawentar’ (terkenal) dan adiluhung yang bisa memegang teguh pada kebenaran yang hakiki. Ubarampe sesaji ini juga bermakna sebagai tanda ‘bekti’ (bhakti) kepada para leluhur cikal bakal dusun.

Ritual yang bernuansa vertikal, memanjatkan doa kepada Tuhan Sang Pencipta Alam Semesta, dengan membaca doa mantram ‘Panembah Jawi’ sebagai puja-puji Keselamatan Suran.

Baca Juga: Degan Bakar untuk Penyembuhan Gatal-gatal di Kulit

Bacaan mantram ini dilantunkan dengan khidmat. Ritual doa mantram ini dipimpin Ki Reksajiwa ini sebagai rasa hormat kepada Hyang Murbeng Dumadi.

“Pakurmatan bekti lair batin, ngemungna mring Hyang Murbeng Dumadi, Pukulun pindha urubing latu mijil saking kajeng, lir pathi mijiling toya susu.”

Halaman:

Editor: Swasto Dayanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X