Fenomena bunuh diri di kalangan mahasiswa, gejala apa ?

photo author
Hudono, Harian Merapi
- Jumat, 27 Oktober 2023 | 10:30 WIB
Ilustrasi (dok harianmerapi.com)
Ilustrasi (dok harianmerapi.com)



SEPERTINYA ada fenomena tak wajar dalam kasus bunuh diri belakangan ini. Beberapa waktu lalu, seorang mahasiswi perguruan tinggi swasta terkenal di Yogya bunuh diri lantaran depresi. Padahal, yang bersangkutan sudah mendapat pendampingan.

Tapi tetap saja, ketika pendamping terlena, mahasiswi tersebut berhasil merealisasikan niatnya bunuh diri, yakni dengan cara melompat dari kosnya yang bangunannya bertingkat.

Beberapa hari lalu, seorang mahasiswi perguruan tinggi swasta juga nekat hendak mengakhiri hidup dengan cara melompat dari tower SUTET di kawasan Ngemplak Sleman. Untung aksinya ketahuan warga, sehingga aksi nekatnya berhasil digagalkan.

Baca Juga: Insiden Tewaskan Pengunjung, Semua Objek Wisata Jembatan Kaca di Banyumas Ditutup Sementara

Lagi-lagi, penyebabnya depresi atau tekanan mental. Berdasar informasi, mahasiswi tersebut tidak kesampaian untuk bertemu dengan ayahnya di Jakarta, kemudian nekat hendak mengakhiri hidup.

Tim penyelamat berhasil membujuk yang bersangkutan sehingga turun dari tower SUTET dan kembali ke rumahnya. Pertanyaannya kemudian, bagaimana bila yang bersangkutan mengulangi perbuatan nekatnya ? Apalagi, bila tidak ada yang mendampinginya selama 24 jam, dikhawatirkan ia akan nekat.

Di beberapa daerah, di Semarang misalnya, juga muncul fenomena serupa, mahasiswa nekat menghakhiri hidup. Gejala apa ini ? Sebegitu ringkih kah mental mahasiswa yang notabene masuk kategori kaum intelek ? Entahlah, mungkin belakangan ini ada tren aneh yang perlu diwaspadai. Mahasiswa gampang putus asa, hingga berlanjut depresi dan nekat mengambil langkah sesaat bunuh diri ?

Baca Juga: Mulai Besok, Bus Trans Jogja Uji Coba Lawan Arus di Jalan Pasar Kembang

Pada kasus yang terjadi di Sleman, penyebabnya sangat sederhana, yakni ingin bertemu dengan ayahnya yang berada di Jakarta. Benarkah hanya karena alasan itu ?

Kalau memang itu alasannya, tentu penyelesaiannya lebih mudah, yakni bagaimana agar orang tersebut dapat bertemu dengan ayahnya, mungkin karena tidak ada ongkos atau lainnya.

Tapi harus pula dicari faktor lainnya, boleh jadi bukan sekadar masalah ekonomi, tapi juga hubungan yang kurang harmonis dengan keluarga sehingga memicu depresi. Jika demikian, yang bersangkutan butuh pendampingan, terutama dari orang yang disegani dan dipercaya. Korban butuh teman untuk diajak bicara agar tidak merasa sendirian.

Baca Juga: Anwar Usman diduga langgar kode etik, sebanyak 16 guru besar dan pengajar hukum lapor ke MKMK

Warga sekitar yang rumahnya berdekatan dengan korban hendaknya juga memberi perhatian, sukur mau diajak ngobrol atau berdiskusi. Apalagi, saat warga menyapa, yang bersangkutan hanya diam, pertanda ada masalah. Cegahlah orang yang hendak bunuh diri, dengan cara apapun, asal tidak membahayakan keselamatan. (Hudono)

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Hudono

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Sepuluh cara menjaga persaudaraan sejati

Sabtu, 18 April 2026 | 17:00 WIB

Menjaga kebersihan hati

Jumat, 17 April 2026 | 17:00 WIB

Tujuh Indikator Kebahagiaan Hidup

Jumat, 17 April 2026 | 06:02 WIB

Delapan golongan manusia yang dicintai Allah SWT

Rabu, 15 April 2026 | 17:00 WIB

Zaman Edan, dan Ruh yang Mencari Jalan Pulang

Rabu, 15 April 2026 | 16:10 WIB

Relaksasi dan Kompetensi WPOP di Era Coretax

Rabu, 15 April 2026 | 16:00 WIB

Hikmah haji dan umrah

Selasa, 14 April 2026 | 17:00 WIB

Al-Quran tentang keutamaan bekerja keras

Senin, 13 April 2026 | 17:00 WIB

Guyub-Rukun demi Kedamaian

Senin, 13 April 2026 | 13:00 WIB

Hikmah Umrah dan Haji

Senin, 13 April 2026 | 07:00 WIB
X