HARIAN MERAPI - Di antara sifat Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah Al-Mahabbah (cinta), yakni Allah mencintai hamba-Nya yang beriman dan bertaqwa serta perbuatan dan amal shaleh yang dilakukan hamba-hamba-Nya.
Dalam ayat Al-Qur’an terdapat beberapa ayat yang mengabarkan tentang orang-orang yang dicintai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Berdasarkan Al-Qur'an, terdapat delapan golongan manusia yang dicintai Allah Ta'ala, yaitu orang yang berbuat baik (Al-Muhsinun), bertaubat (At-Tawwabun), menyucikan diri (Al-Mutathahhirun), bertaqwa (Al-Muttaqun), bersabar (Ash-Shabirun), bertawakal (Al-Mutawakkilun), berbuat adil (Al-Muqsithun) dan Al-Mujahidun (orang yang berjihad/berjuang di jalan Allah Ta'ala dengan teratur).
Secara berturut-turut dapat dijelaskan sebagai berikut:
Pertama, Al-Muhsinun (orang yang berbuat baik). Orang yang berbuat kebaikan, baik kepada Allah Ta'ala maupun sesama manusia, serta ikhlas dalam beramal merupakan orang-orang beriman yang dicintai Allah SWT.
Firman Allah SWT: ”Sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah. Akan tetapi, jika kamu terkepung (oleh musuh), (sembelihlah) hadyu yang mudah didapat dan jangan mencukur (rambut) kepalamu sebelum hadyu sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada di antara kamu yang sakit atau ada gangguan di kepala (lalu dia bercukur), dia wajib berfidyah, yaitu berpuasa, bersedekah, atau berkurban. Apabila kamu dalam keadaan aman, siapa yang mengerjakan umrah sebelum haji (tamatu’), dia (wajib menyembelih) hadyu yang mudah didapat. Akan tetapi, jika tidak mendapatkannya, dia (wajib) berpuasa tiga hari dalam (masa) haji dan tujuh (hari) setelah kamu kembali. Itulah sepuluh hari yang sempurna. Ketentuan itu berlaku bagi orang yang keluarganya tidak menetap di sekitar Masjidilharam. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Mahakeras hukuman-Nya.” (QS. Al-Baqarah; 2:196).
Kedua, At-Tawwabun (orang yang bertaubat). Orang yang sungguh-sungguh kembali kepada Allah Ta'ala, menyesali dosa dan tidak mengulanginya.
Baca Juga: Guyub-Rukun demi Kedamaian
Firman Allah SWT: "Katakanlah: 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” Surat Al-Zumar (39:53). Dalam ayat yang lain: "Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan kebajikan, maka Allah akan mengganti kejahatan mereka dengan kebajikan. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." Surat Al-Furqan (25:70).
Ketiga, Al-Mutathahhirun (orang yang menyucikan diri).
Firman Allah SWT: ”Mereka bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang haid. Katakanlah, “Itu adalah suatu kotoran.” Maka, jauhilah para istri (dari melakukan hubungan intim) pada waktu haid dan jangan kamu dekati mereka (untuk melakukan hubungan intim) hingga mereka suci (habis masa haid). Apabila mereka benar-benar suci (setelah mandi wajib), campurilah mereka sesuai dengan (ketentuan) yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah; 2:222).
Keempat, Al-Muttaqun (orang yang ertaqwa). Orang yang menunaikan janji dan menjaga diri dari perkara yang diharamkan Allah Ta'ala.
Baca Juga: Muhammadiyah Karanganyar Fokus Efisiensi Mobilitas, Tegaskan Tak Terapkan WFH
Firman Allah SWT: ”Bukan begitu! Siapa yang menepati janji dan bertakwa, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali 'Imran; 3:76) Dalam ayat yang lain: ”(Ketetapan itu berlaku,) kecuali atas orang-orang musyrik yang telah mengadakan perjanjian dengan kamu dan mereka sedikit pun tidak mengurangi (isi perjanjian) dan tidak (pula) mereka membantu seseorang pun yang memusuhi kamu. Maka, terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.” (QS. At-Taubah; 9:4).