HARIAN MERAPI - Dr. Drs. H. Khamim Zarkasih Putro M. Si menjadi imam dan khatib dalam ibadah Shalat Jumat 17 April 2026 di Masjid Al-Ikhlas Kompleks RS dr. Soetarto (RS DKT), Gondokusuman, Kota Yogyakarta.
Dosen FITK UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Ketua Dewan Pendidikan Kota Yogyakarta ini dalam khutbah mengambil tema ”Meneladani Semangat Kartini dalam Membangun Bahtera Keluarga.”
Empat hari ke depan bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini. Raden Ajeng Kartini, juga dikenal sebagai Raden Ayu Kartini (21 April 1879 – 17 September 1904), adalah seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional IndonesiaKartini adalah seorang pejuang kemerdekaan dan kedudukan kaumnya, pada saat itu terutama wanita Jawa.
Baca Juga: Kemensos hadir untuk Azril, bantuan dan pendampingan diberikan usai kasus viral
Ia mempunyai tanggal lahir yang sama seperti dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat, yakni sama-sama lahir pada 21 April 1879.
Raden Ajeng Kartini adalah seorang Muslimah yang kritis dan rasional. Meskipun awalnya merasa Islam hanya warisan budaya yang kaku, pandangannya berubah setelah mempelajari makna Al-Qur'an (terutama Al-Fatihah dan Al-Baqarah: 257) melalui Kiai Saleh Darat, yang mendorongnya menghargai Islam sebagai ajaran kasih sayang dan pencerahan.
Setelah kematiannya, saudara perempuannya melanjutkan perjuangannya untuk mendidik anak perempuan dan perempuan. Surat-surat Kartini diterbitkan di sebuah majalah Belanda dan akhirnya, pada tahun 1911, menjadi karya: Habis Gelap Terbitlah Terang, Kehidupan Perempuan di Desa, dan Surat-Surat Putri Jawa.
Ulang tahunnya sekarang dirayakan di Indonesia sebagai Hari Kartini untuk menghormatinya, serta beberapa sekolah dinamai menurut namanya dan sebuah yayasan didirikan atas namanya untuk membiayai pendidikan anak perempuan bangsa Indonesia.
R.A. Kartini memandang pendidikan perempuan sebagai kunci kemandirian dan fondasi utama keluarga yang beradab. Perjuangan Kartini menekankan emansipasi yang tidak meninggalkan kodrat, melainkan meningkatkan kemampuan ibu sebagai pendidik pertama bagi anak-anak, yang berakar pada nilai-nilai keislaman dan peningkatan kecerdasan keluarga.
Berikut adalah poin-poin penting pandangan Kartini mengenai pendidikan dan keluarga:
Pertama, Ibu sebagai Pendidik Pertama: Kartini menegaskan bahwa perempuan harus berpendidikan karena mereka adalah pendidik pertama (madrasatul ula) bagi anak-anaknya. Pendidikan perempuan berbanding lurus dengan kualitas generasi penerus.
Kedua, Emansipasi dalam Islam: Perjuangan Kartini membebaskan perempuan dari ketidaktahuan didasarkan pada keinginan agar perempuan berilmu, mandiri, dan berkontribusi signifikan dalam keluarga maupun masyarakat.
Ketiga, Perbaikan Sistem Keluarga: Dalam pandangannya, pendidikan adalah alat untuk menciptakan keluarga yang harmonis, setara, dan bebas dari kebodohan serta kekerasan.