* Oleh : Ustadz.H.Iip Wijayanto
HARIAN MERAPI - Di zaman media sosial ini perselingkuhan begitu marak terjadi. Orang bisa berkenalan dengan siapa saja dan di mana saja domisilinya.
Diawali dengan saling follow di medsos, dilanjutkan bertukar nomer whats app, diteruskan dengan curhat ujung-ujungnya selingkuh. Ini model perselingkuhan mutakhir.
Baca Juga: Muhammadiyah Karanganyar Fokus Efisiensi Mobilitas, Tegaskan Tak Terapkan WFH
Belum lagi model perselingkuhan klasik seperti selingkuh dengan teman kerja atau cinlok (cinta lokasi), selingkuh dengan tetangga dst. Biasanya sih,di dalam rumah tangga yang lebih banyak selingkuh adalah suami.
Nah, ketika istrinya tidak sanggup lagi membendung kemarahannya kemudian dia mengutuk suaminya agar jadi pengangguran, agar jadi penyakitan, agar bangkrut dst semuanya akan kejadian.
Sebenarnya manusia tidak boleh mendoakan keburukan apalagi sampai mengutuk orang lain. Pengecualian hanya diberikan kepada orang-orang yang terzolimi dalam hal ini istri yang dikhianati.
“Laa yuhibbullahul jahro bissuu’i minal qawli illa man dzulima wakaanallahu samii’an ‘alima (Allah tidak menyukai ucapan buruk dengan terus terang kecuali oleh orang yang terzolimi. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.S.An-Nisa : 148)
Baca Juga: Hikmah haji dan umrah
Seorang istri yang dikhianati itu amat sangat dekat dengan Allah yang membuat doa-doanya termasuk kutukannya jadi mustajab. Di dalam sebuah hadis dijelaskan:
“Wattaqi da’watal mazhlum fainnahu laysa baynahu wa baynallahi hijab (Hati-hatilah dengan doa orang yang terzolimi karena sesungguhnya tak ada hijab antara dia dengan Allah).” (H.R.Bukhari)
Namun demikian akan sangat baik jika seorang istri saat di puncak kemarahannya tetap berdoa yang baik-baik untuk suaminya. Karena jika ternyata suaminya masih jodohnya dan balik dalam keadaan jadi penganguran, penyakitan dst kan jadi beban juga untuknya.
Doakan saja suami sadar, tobat dan berubah jadi suami yang setia. Wallahu a’lamu bishawwab. *