HARIAN MERAPI - Suplai magma di gunung Merapi masih berlangsung yang dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya.
Gunung yang berada di Sleman, Magelang, Boyolali, Klaten, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah itu masih dalam kondisi lebvel III atau siaga.
Petugas Badan Geologi ESDM, Yulianto dalam laporan harian Minggu 13 Juli periode 00.00 - 06.00 menuliskan gunung tersebut terjadi 19 kali gempa guguran dengan amplitudo 2-9 mm dan lama gempa 64.03-173.8 detik.
Baca Juga: Hati-hati, obsesi terhadap idola bisa ganggu keseimbangan hidup, begini nasihat psikolog
Juga terjadi 32 kali gempa Hybrid/Fase Banyak dengan amplitudo 2-16 mm, S-P tidak teramati dan lama gempa 7.93-14.36 detik.
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut 0-III. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal tinggi sekitar 15 meter dari puncak. Cuaca berawan, angin tenang ke arah utara.
"Teramati 1 kali guguran lava ke arah Kali Batang dengan jarak luncur maksimum 1800 meter," tulis Yulianto.
Disampaikan potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awanpanas pada sektor selatan-barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km.
Baca Juga: Bikin anak nyaman dan fokus belajar, begini kiat menata tempat belajar di kamar
Sungai Bedog, Krasak, Bebeng guguran lava dan awanpanas sejauh maksimal 7 km. Pada sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 km dan Sungai Gendol 5 km.
Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.
Dikatakan masyarakat agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya. Masyarakat agar mewaspadai bahaya lahar dan awanpanas guguran (APG) terutama saat terjadi hujan di seputar Gunung Merapi.
Baca Juga: Bisakah AI gantikan dokter diagnosis penyakit, begini penjelasan Kemkomdigi
"Masyarakat agar mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik dari erupsi Gunung Merapi," tulisnya. *