Instiper Yogya bersama Pokdarwis Ratu Boko kembangkan makanan dan minuman khas lokal untuk wisatawan Prambanan

photo author
Husein Effendi, Harian Merapi
- Kamis, 10 November 2022 | 12:40 WIB
Pelatihan produksi Wedang Dupak oleh Instiper Yogya kepada Pokdarwis Ratu Boko. (Humas Instiper Yogya)
Pelatihan produksi Wedang Dupak oleh Instiper Yogya kepada Pokdarwis Ratu Boko. (Humas Instiper Yogya)

HARIAN MERAPI - Kawasan Prambanan menjadi tujuan objek tujuan wisata sejarah dan budaya.

Berbagai candi di kawasan Prambanan menjadi daya tarik wisatawan, karena selain memiliki nilai historis dan edukasi, juga menyediakan pemandangan dan lingkungan yang menarik.

Tingkat kunjungan sebelum pandemi Covid-19 (2017) Candi Prambanan yang mencapai 2,2 juta dan Ratu Boko sebesar 0,4 juta orang per tahun memberikan dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat setempat.

Baca Juga: Musim hujan, waspadai penyakit tifus, ini yang harus dilakukan

Masyarakat di kawasan tempat wisata berkontribusi dan sekaligus mendapatkan manfaat dengan wadah kelompok sadar wisata (pokdarwis).

Pokdarwis ini terlibat dalam antara lain penyediaan pemandu wisata dan penyajian atraksi budaya, dan penyediaan souvenir khas setempat seperti batik.

Pokdarwis yang aktif di kawasan candi Ratu Boko adalah pokdarwis Prabu Boko, yang diketuai Sardi. Bersama 20 anggotanya, Sardi atau sering dipanggil Pak Cemplon, menyediakan pemandu wisata, menyelenggara atraksi budaya ‘Srondol’ dan jemparingan (panahan tradisional).

Pandemi Covid menyebabkan kunjungan wisata turun drastis, menuntut kreativitas usaha Pokdarwis.

Baca Juga: Tahukah Anda gejala terpapar Covid-19 subvarian XBB, ikuti penjelasan dokter

Pokdarwis Prabu Boko kemudian berkolaborasi dengan Institut Pertanian STIPER Yogyakarta, mengembangkan makananan berbasis bahan lokal, yaitu umbi ‘enthik/kimpul’ dan minuman penghangat tubuh dari rempah-rempah yang banyak dijumpai di kawasan tersebut, yang diharapkan dapat mendukung pariwisata khas lokasi sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat.

Program tersebut didanai oleh Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DPRM) Kementerian Pendidikan Nasional RI, dalam skema Program Kemitraan Masyarakat (PKM).

Produk makanan yang dikembangkan adalah gethuk panggang kimpul, sedangkan minuman nya dinamai ‘wedang dupak’ berbahan antara lain: jahe, cengkeh, secang, daun kepel, dan santan.

Di dalam program tersebut selain dilaksanakan pelatihan pembuatan gethuk dan wedang dupak, juga pembekalan manajemen usaha, pelatihan pemasaran baik metode offline maupun online, pendampingan produksi, dan aplikasi teknologi tepat guna.

Pelatihan produksi Gethuk Kimpul oleh Instiper Yogya kepada Pokdarwis Ratu Boko.
Pelatihan produksi Gethuk Kimpul oleh Instiper Yogya kepada Pokdarwis Ratu Boko. (Humas Instiper Yogya)

Melalui dinamika usaha antara sistem produksi dan sistem pemasaran selama 2-3 bulan, kedua produk mulai dipasarkan di kawasan wisata dan masyarakat umum.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Husein Effendi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X