• Selasa, 16 Agustus 2022

Kiai Ageng Henis dan Jejaknya di Laweyan 7: Etos Kerja Pembatik Tumbuh dari Akar Nilai Tradisional

- Sabtu, 21 Mei 2022 | 18:10 WIB
Pengrajin di Kampung Laweyan sedang membatik (Kemdikbud.go.id)
Pengrajin di Kampung Laweyan sedang membatik (Kemdikbud.go.id)

harianmerapi.com - Kiai Ageng Henis dan Jejaknya di Laweyan, etos kerja pembatik tumbuh dari akar nilai tradisional.

Kemampuan membatik pun akhirnya diturunkan kepada sanak saudara, kerabat dan keturunan, bahkan tetangga sehingga kebiasaan membatik tidak lagi ada di dalam keraton saja.

Sejak saat itu membatik menjadi industri rumahan yang dikelola oleh para saudagar dan menjadi salah satu pendapatan yang luar biasa.

Baca Juga: Kiai Ageng Henis dan Jejaknya di Laweyan 1: Putra Bungsu Ki Ageng Sela yang Hijrah ke Pengging

Dalam sejarahnya, Laweyan mempunyai sebutan unik Galgendu karena tempat keberadaan orang-orang kaya.

Ciri khas batik pada masa itu adalah masih dikerjakan dengan tulis tangan memakai lilin dengan media canting.

Motif yang digunakan juga masih meniru motif kraton, berupa motif ceplok, limar, semen, parang, bahkan lunglungan.

Teknik pewarnaan yang digunakan menggunakan bahan alami sehingga masih memakan waktu lama dalam pengerjaannya.

Baca Juga: Kiai Ageng Henis dan Jejaknya di Laweyan 2: Berhasil Mengajak Kiai Ageng Beluk Memeluk Agama Islam

Ragam hias batik Laweyan ini telah dibakukan sehingga ada nama ragam hias Kawung, Sawat, dan Parang.

Halaman:

Editor: Swasto Dayanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X