• Selasa, 30 November 2021

Misteri Si Jubah Merah 2: Suka Marah dan Menampakkan Diri untuk Meneror

- Kamis, 21 Oktober 2021 | 12:00 WIB
Si Jubah Merah marah jika tak ada warga yang menyediakan sesaji. (Ilustrasi Pramono Estu)
Si Jubah Merah marah jika tak ada warga yang menyediakan sesaji. (Ilustrasi Pramono Estu)

IBU sangat merasa bersalah, karena menurutnya kelalaiannya tak menyediakan sesaji yang menyebabkan orang terluka. Aku selalu meyakinkan Ibu bahwa kejadian malam itu bukan kesalahannya, itu semua sudah takdir dari Yang Maha Kuasa.

Hidup dan mati seseorang ada di tangan Tuhannya. Kita tidak akan tahu kapan dan seperti apa cara Tuhan mengambil nyawa umatnya.

Menurut orang pintar atau dukun yang ada di desa, jika tidak menaruh sesaji, maka si Jubah Merah menampakkan diri, marah dan meneror warga.

Baca Juga: Mensyukuri Nikmat 43: Menjaga Gengsi, Tak Bisa Menerima Kenyataan

Benar saja, selama seminggu setelah kejadian kecelakaan, si Jubah Merah kerap menampakkan diri. Bahkan setelah Magrib sudah ada warga yang melihatnya.

Pakdhe Beno adalah tukang becak yang kerap mencari penumpang di depan gapura desa. Menurutnya jika malam itu ia melihat penampakan si Jubah Merah, maka esok harinya ia tidak mendapat penumpang. Hal tersebut sudah sering dialaminya.

Tiga hari setelah kejadian kecelakaan, Ayah pulang dari luar kota. Ibu selalu berpesan bahwa saat di perjalanan Ayah harus selalu berzikir atau bersolawat agar terhindar dari hal-hal yang berbahaya.

Baca Juga: Raden Mas Kiai Mlangi 3: Pergi Meninggalkan Kerajaan untuk Mencari Ilmu dan Ketenteraman

Saat akan menyeberang di depan gapura desa, Ayah melihat Si Jubah Merah yang tersenyum ke arahnya.

Saat itu Ayah tetap berzikir dan fokus melihat jalan, karena akan menyebrang. Hampir saja Ayah menabrak pengendara motor, yang saat itu melaju dengan kencang. Untungnya tidak terjadi kecelakaan.

Halaman:

Editor: Swasto Dayanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Misteri Musang Jadi-Jadian Pemakan Ayam Orang Kampung

Senin, 15 November 2021 | 22:00 WIB
X