• Kamis, 23 September 2021

Dibutuhkan Mentalitas Berkelimpahan untuk Keluar dari Masa-masa Sulit Menghadapi Corona

- Rabu, 4 Agustus 2021 | 05:26 WIB
 Dr. H. Khamim Zarkasih Putro, M. Si (Foto: Istimewa)
Dr. H. Khamim Zarkasih Putro, M. Si (Foto: Istimewa)

MANUSIA adalah makhluk Allah SWT yang unik dan memiliki potensi luar biasa. Pada mulanya, ia lahir sebagai bayi yang tanpa daya, belum memiliki kemampuan (ability); baik kemampuan bersikap (attitude), pengetahuan (knowledge) maupun keterampilan (skills).

Seorang bayi atau kanak-kanak memiliki pengetahuan yang sangat terbatas dalam segala hal, baik menyangkut dirinya, orang lain, alam semesta, dan apalagi tentang Tuhannya. Kanak-kanak juga belum mampu menentukan sikap, apakah harus positif atau negatif, kritis atau nrimo terhadap hampir semua hal yang terjadi di sekitarnya.

Dalam hal keterampilan, kanak-kanak juga masih sangat terbatas, entah itu yang bersifat pertukangan (memukul, memanjat, memutar, membuka dan sebagainya) maupun kemampuan non teknis-kemanusiaan, seperti komunikasi, kepemimpinan, manajemen dan “human skill” lainnya.

Tetapi mengapa setelah beranjak remaja dan dewasa mereka dapat melakukan apa saja?

Dapat bersikap, merasakan, berpikir dan melakukan sesuatu yang diinginkannya. Dalam konteks inilah, maka proses pembelajaran dan pembiasaan menunjukkan maknanya, yaitu menjadikan seorang manusia menjadi semakin mampu, berdaya dan semakin merdeka dari segala hal di luar dirinya.

Baca Juga: Tidak Ada Ruang untuk Rasisme, Liga Premier Inggris Dukung Pemain Berlutut Jelang Tanding

Proses pembelajaran pada dasarnya adalah proses pengembangan segenap potensi; bisa berupa bakat atau minat sehingga dapat menjadi hobi atau bahkan profesi yang dapat menjadi nilai keunggulan diri. Dengan demikian, manusia dapat keluar dari jeratan ketidakmampuan diri (sikap), pengetahuan dan keterampilan.

Pada akhirnya, orang yang demikian dapat mencukupi kebutuhan hidupnya (intelektual, material dan spiritual) secara melimpah. Praktisnya, ia dapat menghadirkan diri menjadi pribadi yang kaya; kaya hati, pengetahuan, harta, kedudukan dan sebagaianya. Inilah yang disebut mentalitas berkelimpahan.

Yaitu, pribadi yang dapat mendayagunakan dan memberdayakan dirinya menjadi semakin bermanfaat bagi diri dan lingkungan. Gagasan-gagasan cerdasnya, perilakunya dan kemampuan praktisnya dapat bermanfaat bagi orang lain atau “dijual” kepada orang lain.

Pribadi berkelimpahan seperti ini sangat dibutuhkan konstribusinya, teristimewa ketika kehidupan bangsa sedang menghadapi ujian berupa Corona sekarang ini.

Halaman:

Editor: Swasto Dayanto

Tags

Terkini

Menjadi Pribadi yang Sabar di Era Pandemi Covid-19

Rabu, 22 September 2021 | 05:00 WIB

Lima Sifat-sifat Lemah yang Jadi Bawaan Manusia

Senin, 13 September 2021 | 05:00 WIB

Muhasabah, Saat yang Tepat Ketika Pandemi Berkepanjangan

Jumat, 10 September 2021 | 05:00 WIB

Enam Langkah Praktis Mengendalikan Rasa Marah

Senin, 6 September 2021 | 05:38 WIB

Agama Kasih Sayang

Jumat, 3 September 2021 | 05:00 WIB

Keteladanan Nabi Muhammad SAW

Rabu, 1 September 2021 | 05:13 WIB

Kunci Kebahagiaan adalah Qalbun Syakirun

Jumat, 27 Agustus 2021 | 06:10 WIB

Era Pageblug: Membangun Etos Kerja Islami

Rabu, 25 Agustus 2021 | 07:10 WIB

Bertaubat dengan Sepenuh Hati, Ini Lima Syaratnya

Senin, 23 Agustus 2021 | 06:16 WIB

Tebar Kebaikan di Era Pandemi Covid-19

Rabu, 18 Agustus 2021 | 07:21 WIB

Pendidikan Keluarga Luqman

Jumat, 13 Agustus 2021 | 05:44 WIB

Keutamaan Hijrah di Tahun Baru Islam

Rabu, 11 Agustus 2021 | 06:28 WIB

Menggapai Kebermaknaan Hidup Era Pandemi Covid-19

Senin, 9 Agustus 2021 | 05:31 WIB
X