Jambret makin nekat, incar anak, ini antisipasinya

photo author
Hudono, Harian Merapi
- Minggu, 13 April 2025 | 08:30 WIB
ilustrasi: Pelaku jambret yang merupakan pelajar SMA dan barang bukti saat digelandang ke Polsek Mlati.  (Samento Sihono)
ilustrasi: Pelaku jambret yang merupakan pelajar SMA dan barang bukti saat digelandang ke Polsek Mlati. (Samento Sihono)

PENJAHAT makin nekat. Mana yang bisa mendatangkan uang langsung diembat, tak peduli caranya. Seperti yang terjadi di Kulon Progo beberapa hari lalu, seorang bocah perempuan usia tujuh tahun menjadi korban jambret saat bermain tak jauh dari rumahnya. Bocah warga Pengasih Kulon Progo ini menangis ketika kalung emas yang ia kenakan tiba-tiba diserobot lak-laki tak dikenal.

Laki-laki tak dikenal itu semula menanyakan alamat rumah kepada korban. Berikutnya, ketika korban lengah, kalung emas yang ia kenakan tiba-tiba disambar pelaku yang langsung kabur. Korban hanya bisa berteriak dan menangis. Sedang pelaku langsung kabur dan kini masih dalam pengejaran polisi. Peristiwanya sangat cepat, terjadi sekitar pukul 12.00, namun saat itu tidak ada warga yang berhasil mengejar pelaku.

Orang Jawa biasanya mengatakan, masih beruntung anak selamat, padahal sudah menjadi korban penjambretan. Dilihat dari lokasi dan waktunya, aksi pelaku tergolong sangat nekat. Selain terjadi di siang bolong, suasana di tempat itu relatif ada orang berlalu lalang, meski tidak ramai. Lebih nekat lagi pelaku menyasar anak yang sedang bermain.

Baca Juga: Mengenal senjata tradisional Kerambit, biasa digunakan pendekar di Minangkabau

Korban mungkin syok bahkan bisa mengalami trauma atas kejadian tersebut. Karena itu, polisi perlu memberi pendampingan dengan menghadirkan psikolog untuk merehabilitasi kondisi korban. Ibaratnya sudah jatuh masih tertimpa tangga. Korban atau orangtuanya telah mengalami kerugian akibat kalung seberat 3 gram dijambret. Sudah begitu, kondisi psikologis korban juga terguncang, sehingga perlu pendampingan.

Kasus tersebut menjadi pembelajaran bagi para orang tua untuk lebih berhati-hati dan selalu mengawasi anaknya bermain. Harus diasumsikan bahwa penjahat ada di sekitar mereka, sehingga perlu langkah antisipasi. Misalnya tidak memakaikan barang berharga seperti perhiasan kepada anaknya. Mengapa ? Karena itu akan memancing penjahat beraksi.

Ada ungkapan umum di masyarakat bahwa kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat pelaku, melainkan juga karena ada kesempatan. Boleh jadi saat itu tak ada niat pelaku untuk menjambret, namun karena ada kesempatan maka terjadilah.

Baca Juga: Desa Wotawati Gunungkidul sebagai kawasan terpadu Bengawan Solo Purba mengarah ke Wisata Hijau Berkelanjutan

Atau bisa pula keduanya, ada niat, ada pula kesempatan, maka lengkaplah kejahatan itu dilakukan. Karenanya orang tua harus waspada, jangan memakaikan perhiasan kepada anak di tempat umum, karena penjahat mengincarnya. (Hudono)  

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Hudono

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Sepuluh cara menjaga persaudaraan sejati

Sabtu, 18 April 2026 | 17:00 WIB

Menjaga kebersihan hati

Jumat, 17 April 2026 | 17:00 WIB

Tujuh Indikator Kebahagiaan Hidup

Jumat, 17 April 2026 | 06:02 WIB

Delapan golongan manusia yang dicintai Allah SWT

Rabu, 15 April 2026 | 17:00 WIB

Zaman Edan, dan Ruh yang Mencari Jalan Pulang

Rabu, 15 April 2026 | 16:10 WIB

Relaksasi dan Kompetensi WPOP di Era Coretax

Rabu, 15 April 2026 | 16:00 WIB

Hikmah haji dan umrah

Selasa, 14 April 2026 | 17:00 WIB

Al-Quran tentang keutamaan bekerja keras

Senin, 13 April 2026 | 17:00 WIB

Guyub-Rukun demi Kedamaian

Senin, 13 April 2026 | 13:00 WIB

Hikmah Umrah dan Haji

Senin, 13 April 2026 | 07:00 WIB
X