Pagelaran wayang kontemporer Shinta Bingung pungkasi Muhammadiyah Jogja Expo (MJE) 2

photo author
admin_merapi, Harian Merapi
- Minggu, 9 Oktober 2022 | 15:20 WIB
Suasana pentas pagelaran wayang kontemporer Shinta Bingung di penutupan Muhammadiyah Jogja Expo (MJE) 2.  (Teguh Priyono)
Suasana pentas pagelaran wayang kontemporer Shinta Bingung di penutupan Muhammadiyah Jogja Expo (MJE) 2. (Teguh Priyono)

HARIAN MERAPI - Shinta begitu sedihnya karena kekasih yang sangat dicintai, tiba tiba saja hilang tak meninggalkan pesan.

Kesedihan Shinta sedemikian dalam membuat dirinya bingung, sebenarnya apa yang terjadi dengan Rama Wijaya.

Cerita carangan dengan lakon Shinta Bingung, menjadi pertunjukan yang menarik dan lebih memberikan hiburan, demikian ungkap penulis naskah sekaligus sutradara dalam pageran Wayang Kontemporer, Dr. KRT. Akhir Lusono, S.Sn. M.M, di sela pentas, Sabtu (9/10/2022) malam di Kampus 4 Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Ring Road Selatan Yogyakarta.

Baca Juga: SAR Karanganyar latih kesiapan calon relawan, sasar pelajar tingkat menengah

Lebih lanjut menurut Akhir, pagelaran wayang kontemporer ini selain sebagai hiburan dimaksudkan juga untuk mengenalkan dan memberi edukasi kepada generasi muda mengenai pertunjukan wayang orang yang dikemas dengan bahasa serta kondisi panggung kekinian.

Terbukti dari pagelaran yang berlangsung dalam penutupan Muhammadiyah Jogja Expo (MJE) 2 itu, animo masyarakat demikian besar menikmati tontonan langka ini.

"Ini salah satu bentuk edukasi serta memberikan hiburan yang sehat dan bermanfaat bagi masyarakat luas, seni tradisional jika tidak dikemas secara cantik dan menarik bisa dipastikan bisa kehilangan masyarakat pendukungnya," tutur Akhir yang juga sastrawan bahasa Jawa.

Lakon Shinta Bingung dari ide ceritanya sebenarnya biasa-biasa saja, sebagai mana layaknya seorang gadis yang ditinggal pergi kekasihnya tanpa pesan, pasti sedih dan bingung.

Baca Juga: Polres Gunungkidul tangkap 3 anggota sindikat pencurian sepeda motor di DIY, akui curi 16 motor

Kepergian kekasih Rama yang diperankan oleh Drs. Totok Sudarto, M.Pd membuat kegundahan tersendiri dalam diri Shinta yang diperagakan Dr. Sarjilah, M.Pd.

Kepergian Rama semata ingin lebih dekat dalam berkesenian dengan masyarakat. Untuk menghilangkan kesedihan hatinya, Shinta kemudian mengundang para seniman untuk menghiburnya.

Dalam komunitas seniman itu, ternyata Rama menjadi salah satu anggotanya.

"Ya maka terkuaklah penyamaran Rama di tengah rakyat dengan menjadi seniman. Begitu kisahnya," ucap Akhir Lusono.

Baca Juga: Pembangunan pelabuhan Gesing Gunungkidul ditarget selesai akhir Desember 2022

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Husein Effendi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X