HARIAN MERAPI - Kisah inspiratif kembali hadir melalui YouTube series “Aku Kamu dan Suatu Hari Kita” yang mengangkat perjalanan hidup Kenneth Trevi sebagai anak dengan dyslexia. Kenneth dikenal sebagai penyanyi dan aktor yang berasal dari Kota Bandung.
Kenneth Trevi kepada awak media pada Senin (13/4/2026) mengatakan, series tersebut menghadirkan cerita yang jujur, emosional, sekaligus penuh harapan melalui pendekatan sinematik yang hangat dan dekat dengan realitas. Proyek tersebut menjadi ruang refleksi bagi penonton untuk memahami bahwa setiap perjalanan hidup memiliki ritme dan makna tersendiri.
Dalam proses produksi, Kenneth menghadapi tantangan emosional yang tidak ringan, terutama saat harus menyampaikan dialog panjang di depan kamera. Ia mengaku kesulitan merangkai kata menjadi kalimat utuh, sering terbalik dalam menyusun struktur, hingga kehilangan makna dari dialog yang diucapkan.
Baca Juga: Keutamaan sifat itsar dalam Al-Quran dan Al-Hadits
Dengan dukungan sang ibu, dialog dipecah menjadi bagian kecil agar lebih mudah dipahami, sehingga perlahan Kenneth mampu membangun kepercayaan diri untuk menyampaikan perannya.
Selain tantangan teknis, tekanan emosional muncul saat Kenneth harus beradu akting dengan ibunya sendiri, Yuly (Li Ling). Ia merasakan kesedihan dan rasa bersalah ketika melihat ibunya menangis dalam adegan, meskipun telah memahami bahwa situasi tersebut merupakan bagian dari akting.
Kondisi tersebut menjadi ujian emosional yang memperkaya pengalaman personal sekaligus performanya sebagai pemeran utama.
Kolaborasi antara Kenneth dan Yuly menghadirkan dinamika yang kuat di layar. Kenneth merasakan kenyamanan, keamanan, dan kebahagiaan saat bekerja bersama ibunya, yang juga berperan sebagai pembimbing dalam proses pendalaman karakter.
Baca Juga: Tegas! Menteri Imipas Siap Bersihkan Lapas dari Narkoba, Oknum Terlibat Dipecat
Yuly membantu Kenneth memahami emosi melalui pengalaman nyata, mengingat keterbatasannya dalam memahami konsep abstrak, sekaligus mendorongnya untuk tetap menjadi diri sendiri dalam setiap adegan.
Melalui series tersebut, Kenneth menyampaikan pesan kuat kepada anak-anak dengan dyslexia bahwa perbedaan bukanlah kekurangan. Ia menekankan bahwa setiap individu memiliki cara belajar dan berkembang yang unik, serta perjalanan yang tidak harus terburu-buru.
Dengan penuh keyakinan, ia mengajak penonton untuk terus melangkah tanpa menyerah, karena setiap proses membawa mereka lebih dekat menuju “suatu hari” yang diimpikan.
Sebagai pemeran yang menghidupkan kisahnya sendiri, Kenneth menjaga kejujuran cerita dengan berakting secara natural berdasarkan pengalaman pribadi.
Baca Juga: Komisi A DPRD Salatiga Soroti Manajemen RSUD, Jangan Kalah dengan RS Swasta
Ia mengakui tantangan terbesar terletak pada menghidupkan kembali emosi negatif di saat kondisi emosional sedang stabil. Meski demikian, ia berkomitmen untuk menyampaikan cerita secara autentik tanpa mengubah esensi perjalanan hidupnya.