Penampilan mereka dinilai paling utuh, menghadirkan harmoni antara dramatik cerita, kekuatan vokal serta kekompakan iringan gamelan.
Tak hanya itu, dominasi Tuti Barat Selatan juga terlihat dari raihan kategori individu.
Sabrang dinobatkan sebagai pemain terbaik putra, sementara Suyoto menyabet sutradara terbaik dan Bima Arya Putra MSn meraih penata tari terbaik.
Kesuksesan ini menjadi bukti kuatnya fondasi pembinaan seni di wilayah tersebut.
Baca Juga: Pencurian Gamelan di FIB UGM, Polisi Selidiki Pelaku
Di posisi kedua, Tuti Tengah Selatan yakni Kretek, Pundong dan Bambanglipuro meraih nilai 1718 disusul Tuti Tengah Utara terdiri dari Sewon, Bantul dan Jetis di posisi ketiga dengan nilai 1680.
Sementara itu, penghargaan pemain terbaik putri diraih Mbok Roro dari Tuti Barat Utara dan kategori iringan terbaik jatuh kepada Mas Sasrul Yulianto MSn dari Tuti Tengah Utara.
Lebih dari sekadar kemenangan, festival ini menjadi gerbang menuju panggung yang lebih luas.
Kontingen terbaik, khususnya Juara I, dipastikan akan mewakili Kabupaten Bantul dalam Festival Langen Carita tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta pada Mei 2026.
Baca Juga: Kejari Karanganyar Setorkan Rp977 Juta ke Kas Negara dari Kasus Korupsi Alkes
Momentum ini menjadi tantangan sekaligus harapan.
Dari Pendhapa Manggala Parasamya, langkah kecil para seniman cilik Bantul kini mengarah ke panggung provinsi yang membawa misi besar dengan men jaga nyala budaya agar tetap hidup di tengah arus zaman.
Festival Langen Carita pun kembali menegaskan satu hal bahwa masa depan tradisi ada di tangan generasi muda, dan Bantul telah menyiapkan mereka dengan penuh kesungguhan.*