• Kamis, 26 Mei 2022

Minyak Goreng di Pasar Tradisional Masih Sulit di Harga Rp 14 Ribu, Ini Sebabnya

- Sabtu, 22 Januari 2022 | 18:25 WIB
Minyak goreng di Karanganyar yang dijual di pasar tradisional masih diberi toleransi harga.  (foto:Abdul Alim)
Minyak goreng di Karanganyar yang dijual di pasar tradisional masih diberi toleransi harga. (foto:Abdul Alim)

KARANGANYAR,harianmerapi.com-Kebijakan satu harga untuk komoditas minyak goreng SNI dikhawatirkan menuai gejolak apabila diterapkan sekarang. Para pedagang di pasar tradisional diberi toleransi menjual dengan harga di atasnya sampai persediaan habis, baru kemudian menjual stok baru dengan satu harga Rp 14 ribu per liter.

Koordinator Satgas Perdagangan dari Disdagnakerkop UKM Karanganyar, Eko Supriyadi mengatakan pasar mulai menyesuaikan kebijakan satu harga migor SNI yang digulirkan Kemendag.

Penyesuaian itu mudah dilakukan pelaku pasar modern seperti swalayan dan mini market waralaba. Ia menyebut manajemen di pasar modern lebih memungkinkan merevisi harga jualnya, mengingat alur distribusinya jelas dan terukur.

Baca Juga: BIN Jateng Gelar Vaksin Booster di Akhir Pekan, Warga Antusias Sampai Melebihi Target

Namun hal berkebalikan dialami pada alur penjualan migor eceran di pasar tradisional dan kelontong. Para pedagang yang terlanjur membeli secara grosir dengan harga mahal, menolak menjualnya satu harga Rp14 ribu per liter.

Saat ini, rata-rata harga migor dari tujuh pasar induk di Karanganyar masih mahal. Migor curah Rp19.091 per liter, bimoli Rp20 ribu per liter sedangkan migor Hemart Rp19.318 per liter.

“Memang benar ada kebijakan migor 1 harga dari Mendag hingga enam bulan ke depan. Tapi kebijakan itu menyubsidi produsen. Yang sudah terlanjur beredar masih harga lama. Terutama di kelontong, pengecer dan pasar tradisional,” katanya, Sabtu (22/1/2022).

Baca Juga: Minyak Goreng Satu Harga Rp14 Ribu per Liter Perlu Diperluas ke Pasar Tradisional

Jika masyarakat masih menemui migor harga mahal, jangan serta merta menyalahkan pemerintah. Bisa jadi, ia membelinya di luar pasar modern.

Satgas kini hanya bisa mengawasi ketersediaan migor SNI di pasar tradisional. Apabila persediaan sudah habis, disarankan kulakan dengan sistem satu harga. Jenis SNI dianjurkan, sebab disubsidi program tersebut. Ia mengatakan toleransi migor di luar satu harga diberi waktu sepekan.

Halaman:

Editor: Herbangun Pangarso Aji

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X