• Selasa, 26 Oktober 2021

Pemerintah Tengah Menyempurnakan Sistem Peringatan Dini Tsunami. Begini Penjelasan Kepala BMKG

- Minggu, 19 September 2021 | 19:00 WIB
Dokumentasi - Sejumlah petugas pelaksana operasional dari Badan Pengkajian dan Pengembangan Teknologi (BPPT) menurunkan alat deteksi dini tsunami (Tsunami Early Warning System) di Pelabuhan Merak Mas Indah Kiat, Cilegon, Banten, Rabu (11/4/2007). ( FOTO ANTARA/str-Juli)
Dokumentasi - Sejumlah petugas pelaksana operasional dari Badan Pengkajian dan Pengembangan Teknologi (BPPT) menurunkan alat deteksi dini tsunami (Tsunami Early Warning System) di Pelabuhan Merak Mas Indah Kiat, Cilegon, Banten, Rabu (11/4/2007). ( FOTO ANTARA/str-Juli)

JAKARTA, harianmerapi.com - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bersama kementerian/lembaga terkait tengah menyempurnakan dan mengembangkan Sistem Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami (InaTEWS). Pasalnya, fenomena tsunami nontektonik terjadi beberapa kali di Indonesia akhir-akhir ini.

Meskipun demikian, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati, di Jakarta, Minggu (19/9/2021) menyatakan, berdasarkan pencatatan BMKG, lebih dari 90 persen tsunami diakibatkan oleh fenomena tektonik atau kegempaan.

"Karenanya, sistem peringatan dini yang terbangun dan beroperasi saat ini masih terbatas untuk Peringatan Dini Tsunami Tektonik yang dibangkitkan oleh gempabumi saja " ujar Dwikorita.

Baca Juga: Rencana Pemerintah Membuka Kedatangan Wisman Harus Dilakukan Transparan. Begini Kata Wakil Ketua MPR

Menurutnya, Tsunami di Pandeglang, Selat Sunda, Banten yang terjadi tahun 2018 adalah salah satu contoh tsunami non tektonik. Yang terjadi akibat longsor lereng gunung ke laut, yang dipicu erupsi Gunung Api Anak Krakatau, bukan karena gempabumi.

Terbaru, Dwikorita mengatakan adalah saat terjadinya gempabumi magnitudo 6,1 di Pulau Seram Maluku Tengah, 16 Juni 2021 yang juga mengakibatkan longsor lereng pantai sehingga berdampak tsunami dengan kenaikan muka air laut sekitar 50 cm.

"Umumnya gempabumi dengan magnitudo 6,1 di laut dekat pantai belum mampu membangkitkan tsunami, namun ternyata mampu mengakibatkan longsor pantai ke laut pada lereng pantai dengan bathimetri curam, dan akhirnya memicu tsunami kecil," tambah Dwikorita saat menjadi pembicara dalam Seminar Fraksi Partai Persatuan Pembangunan DPR RI secara virtual baru-baru ini.

Baca Juga: Pimpinan MIT Ali Kalora Tewas Ditembak. Anggota Dewan Berikan Apresiasi Untuk TNI-Polri

Dwikorita mengatakan penyempurnaan dan inovasi yang dilakukan BMKG dalam Sistem Peringatan Dini Tsunami menjadi sebuah keharusan mengingat beberapa wilayah di Indonesia juga memiliki potensi kejadian serupa.

Dwikorita menyebut sejumlah wilayah Indonesia yang berpotensi mengalami tsunami non tektonik antara lain adalah Selat Sunda, Kota Palu Sulawesi Tengah, Pulau Seram Maluku Tengah, juga beberapa titik di Wilayah Indonesia Tengah dan Timur, termasuk Pulau Lembata Nusa Tenggara Timur.

Halaman:

Editor: Widyo Suprayogi

Sumber: Antara

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mau Terbang, Ini Aturan Terbaru dari Kemenhub

Jumat, 22 Oktober 2021 | 14:12 WIB
X