Dari Tungku Kayu di Perbukitan Gersang Kebosungu I, Harum Sere Wangi Menghidupi Banyak Orang

photo author
Yusron Mustaqim, Harian Merapi
- Kamis, 16 April 2026 | 18:00 WIB
Suwaji saat membantu Yatimin memasukkan daun sere ke dalam ketel besar untuk dimasak (Foto-Yusron Mustaqim )
Suwaji saat membantu Yatimin memasukkan daun sere ke dalam ketel besar untuk dimasak (Foto-Yusron Mustaqim )

Keduanya paham betul, kesabaran adalah kunci.

Sebab hasil minyak sangat dipengaruhi musim.

“Kalau musim hujan, kadar air tinggi. Satu kuintal daun paling dapat 500 sampai 600 mililiter. Tapi kalau kemarau, bisa 800 sampai hampir 1 liter,” jelas Yatimin.

Minyak sere murni itu dijual Rp 250 ribu per liter.

Dalam sebulan, rata-rata ia mampu menghasilkan 25 liter.

Untuk pemasarannya tak lagi tradisional.

Yatimin memanfaatkan jalur daring atau online dan produknya sudah sampai ke Purwokerto, Banyumas, Yogyakarta hingga Sleman.

Minyak itu dipakai untuk pijat, bahan sabun, aromaterapi hingga lilin.

Namun bagi Yatimin, nilai sere wangi bukan sekadar angka penjualan.

Ia membeli daun sere dari petani sekitar dengan harga Rp 500 per kilogram.

Kini, tak kurang dari 160 hektare lahan milik kelompok tani dan tanah kas kalurahan telah ditanami sere.

Tanaman yang dulu dianggap tak bernilai itu, kini menjadi sumber penghasilan baru warga.

“Dulu bingung mau ditanami apa. Sekarang sere bisa hidup, warga dapat tambahan pendapatan,” katanya pelan.

Selain sere, warga juga mulai menanam kayu putih yang perlahan dikembangkan menjadi minyak kayu putih.

Di dapur sederhana itu, Yatimin tak hanya menyuling minyak.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Swasto Dayanto

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X