CERITA WARSITO DI PUNCAK MERAPI-Tidur Tanpa Alas, Makan Bunga, Minum Air Hujan

MERAPI-SAMENTO SIHONO Warsito saat menjalani perawaran di rumah sakit Panti Nugraha
MERAPI-SAMENTO SIHONO
Warsito saat menjalani perawaran di rumah sakit Panti Nugraha

PAKEM (MERAPI)-  Setelah berhasil dievakuasi, korban hilang di lereng Gunung Merapi, Warsito (33) warga Paten, Tridadi, Sleman langsung dibawa ke rumah sakit Panti Nugroho, Pakem untuk menjalani perawatan, Senin (26/2). Warsito mengaku selama 4 hari tersesat, dia harus berjuang bertahan hidup dengan memakan bunga, minum air hujan serta berjalan tanpa alas kaki. Padahal, tak ada jalur pendakian dari Kaliadem.
Hingga kemarin, kondisi Warsito sudah berangsur membaik. “Kondisinya sudah semakin membaik, meski masih lemah, tapi makannya sudah banyak,” ucap istri Warsito, Dwi Indri Astuti (34) kepada Merapi, Senin (26/2).
Meski masih terlihat lemah, namun Warsito sudah bisa diajak bicara. Bahkan dia juga mampu menceritakan petualangannya selama 4 hari di Gunung Merapi.
Kepada <I>Merapi<P>, Warsito mengaku awalnya naik ke Gunung Merapi hanya ingin main pada Kamis (22/2) lalu. Dari Kaliadem, dia mengaku berjalan kaki sampai di Puncak Gunung Merapi. Padahal, tak ada jalur pendakian dari kawasan Kaliadem.

“Saya juga sampai kawah setelah berjalan menyusuri sungai,” ujarnya. Namun saat ingin kembali, kata dia, jalan yang dilalui justru tertutup kabut sehingga pandangan matanya tidak bisa melihat.
“Saya ada keinginan pulang, namun saat itu jalan tertutup kabut,” cerita Warsito. Saat itulah dia mengaku menunda turun ke bawah dan memilih tetap di puncak Merapi.
Selama di puncak Merapi, sejak Kamis sore, Warsito mengaku bertahan hidup dengan memakan bunga-bunga yang tumbuh di lereng Merapi. Selain itu ia juga minum air hujan dan genangan air. Dia membawa botol berisi air yang ditemukan di sungai. “Dari bawah saya tidak bawa bekal sama sekali,” ujar ayah dua anak ini.
Warsito mengaku sampai di kawah Merapi Kamis sore, namun saat akan turun, dia merasa kedinginan kemudian kembali ke kawah untuk menghangatkan badan. Dia menginap di Puncak Merapi hingga Jumat pagi. Lagi-lagi saat akan turun, dia tak menemukan jalur dan berputar-putar di sekitar puncak Merapi hingga Sabtu malam. “Saya dua kali naik turun ke kawah di Puncak Merapi karena tak tahu jalan pulang,” katanya.

BACA JUGA:EMPAT HARI HILANG DI KALIADEM-Warsito Ditemukan dalam Kondisi Sangat Lemah

Selama berada di puncak Merapi, Warsito mengaku tidur di bawah tebing kawah tanpa alas apapun. Ajaibnya, dia tidak mengalami luka apapun di tubuhnya, hanya telapak kakinya mengalami lecet karena selama perjalanan tidak menggunakan alas kaki.
“Awalnya saya pakai sendal jepit, tapi karena putus, saya tinggal dan naik tidak pakai sandal,” katanya.
Setelah tiga hari berada di Puncak Merapi, Warsito akhirnya berhasil turun pada Minggu (25/1) hingga sampai di Pos 2 Pendakian Gunung Merapi. Di tempat itulah Warsito berhasil ditemukan Tim SAR dalam kondisi sangat lemah.
Seperti diketahui, Warsito (33) hilang saat berwisata ke Bungker Kaliadem, lereng Gunung Merapi bersama istrinya, Dwi Indri Astuti pada Kamis (22/2). Sebelum naik ke Bungker Kaliadem, mereka singgah terlebih dahulu di warung untuk makan.
Korban kemudian meminta izin kepada istrinya untuk naik terlebih dahulu ke lereng gunung, namun setelah itu keberadaannya tidak diketahui lagi. Dia berhaisl ditemukan Tim SAR pada Minggu (25/2).
Dwi Indri Astuti mnambahkan, saat ditemukan Tim SAR, kondisi suaminya masih seperti orang linglung. Bahkan dia sempat tidak mengenali Astuti, istrinya. Namun berkat kesigapan petugas yang melakukan evakuasi dari Pos 2 lereng Merapi, kondisinya sudah membaik.
“Awalnya dia tak mengenal saya. Tapi setelah mendapat perawatan medis, baru mulai ingat dengan saya. Tidak ada luka serius, dia hanya dehidrasi saja,” katanya.
Astuti mengaku sebelum suaminya ditemukan, ia mendapat firasat, berupa langit di lereng Merapi sangat cerah. “Minggu siang itu saya melihat langit begitu cerah, saya berfikir pertanda baik, ternyata benar suami saya ditemukan pukul 13.10 WIB,” ceritanya.
Dikatakan Astuti, sebelum menghilang, beberapa hari terakhir suaminya memang tampak gelisah. Namun ia tidak mengetahui penyebabnya karena Warsito tidak bercerita kepadanya. (Shn)

 

Read previous post:
Petir Sambar Rumah, Kayen Banjir Bandang

PATI ( MERAPI ) - Rumah milik Parmo (50) warga Dukuh Biteng desa Banjarsari kecamatan Gabus porak poranda karena dihajar

Close