harianmerapi.com - Malam itu terasa aneh bagi Asih. Ia sampai menyeka keringat yang menetes di dahinya sekalipun AC menyala dengan suhu 18°C.
Memang cukup dingin untuk udara selarut ini. Ia melihat jam tangan mungil di pergelangan tangan kirinya, jarum pendek berhenti di angka satu. Artinya kurang lima jam lagi dia bisa istirahat.
Suasana lobi rumah sakit malam itu lengang. Asih merasakan aura mistis, sehingga mencoba menyibukkan dirinya dengan game yang ada di gawainya.
Tapi tetap saja ekor matanya tak bisa lepas dari sudut depo farmasi yang terletak sepuluh meter dari meja resepsionis yang ia tempati.
Bosan main game, Asih mencoba menyibukkan diri dengan melihat-lihat CCTV lewat komputer yang ada di meja kerjanya.
Entah mengapa ia ingin saja iseng melihat-lihat rekan sejawatnya yang sedang bekerja di malam hari di rumah sakit malam itu.
Tak berapa lama pandangan Asih terhenti pada salah satu tangkapan layar. Gambarnya membuat Asih berhenti di satu titik dan memperhatikan lebih seksama layar di depannya.
Baca Juga: Lima Faktor Internal yang Mempengaruhi Pendidikan Karakter Anak, Salah Satunya Insting atau Naluri
Ia mendekatkan kepalanya di depan monitor. Seolah tak percaya, ia mengernyitkan dahinya.
Sebelum ia sadar harus menelepon satpam, Asih menepuk-nepuk pipinya. Berharap ini hanya mimpi.
Kemudian ia memperhatikan kembali monitor di depannya. Satu menit, tidak ada yang berubah. Fix, Asih harus menelepon satpam sekarang juga.
Ia memencet tombol 1 dari telepon kabel di mejanya. Tak lama kemudian suara di seberang berbunyi, menandakan teleponnya diangkat.
“Pak tolong cek lantai 6 deh Pak.” Ucap Asih langsung menodong suara di seberang setelah mengucapkan Halo.
“EDP Mbak?” tanya Pak Satpam. EDP maksudnya adalah ruang Electronic Data Process.