• Kamis, 9 Desember 2021

Enam Langkah Praktis Mengendalikan Rasa Marah

- Senin, 6 September 2021 | 05:38 WIB
Dr. H. Khamim Zarkasih Putro, M. Si. (Istimewa)
Dr. H. Khamim Zarkasih Putro, M. Si. (Istimewa)

NABI Muhammad Shallallahu’alaihi Wa Sallam pernah memberi nasihat kepada seseorang yang datang meminta nasihat kepada beliau: ”Jangan kamu marah”.

Islam mengajarkan, apabila hidup penuh dengan kesulitan dan perasaan sering terluka atau dilukai orang lain, ada tiga cara untuk merespon secara positif yang dapat menjadikan jiwa stabil kembali; yaitu menahan amarah, memberi maaf, dan membalasnya dengan kebaikan.

Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa rasa marah (ghadhab) disebabkan oleh dominasi unsur api atau panas (al-hararah), yang mana unsur tersebut melumpuhkan peran unsur kelembaban atau basah (al-ruthubah) dalam diri manusia. Hatinya sudah terpenuhi dengan bara api kemarahan dan darah yang kotor, sehingga hati menjadi buta terhadap realita serta tidak dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

Baca Juga: Tingkatkan Perbaikan Rumah Tak Layak Huni, Jateng Tambah Dana Pemdes

Kaitannya dengan menangani rasa marah, ada enam langkah praktis yang dapat diterapkan untuk mengantisipasinya; yaitu : Pertama, mengubah sikap. Amarah bisa menjadi dorongan dan aura positif kalau ditangani secara sensitif dan asertif; amarah harus ditangani, bukan dipendam atau dilampiaskan.

Harus diingat, kita semuanya mempunyai pilihan ketika sedang marah, terkendali ataukah lepas kendali, dan tidak ada seorang pun bisa membuat kita lepas kendali kecuali kita membiarkannya terjadi.

Kedua, kendalikan ketakutan. Seringkali amarah yang terpendam merupakan akibat hilangnya rasa percaya diri yang berakar pada ketakutan; takut kehilangan pekerjaan, citra diri, teman karib, hidup, penghasilan, dan sebagainya. Kemarahan itu sendiri terkadang merupakan suatu upaya untuk menutupi ketakutannya. Dengan memerangi ketakutan tersebut kita biasanya menjadi lebih baik dalam mengendalikan amarah.

Baca Juga: Polsek Polokarto Beri Pelatihan Budi Daya Ikan Lele Pada Kelompok Pemuda

Ketiga, hadapi sisi buruk dalam diri sendiri, artinya kita harus berani mengakui dan melihat sisi jelek diri sendiri, menerima kelemahan sendiri tanpa ada perasaan terancam. Orang yang sedang mengarahkan jari telunjuknya ke arah orang lain, ternyata ada tiga jari lain yang menunjuk kepada dirinya, artinya kesalahan itu lebih besar pada diri sendiri.

Keempat, mengatasi timbunan amarah. Ini bisa berarti menghadapi dan berbagi kepedihan dan penderitaan di masa kecil, termasuk yang baru dirasakan, yang diakibatkan oleh orang lain. Timbunan amarah akan menjadi suatu kumpulan amarah yang harus dipendam, yang istilah psikologisnya sebagai kompleks terdesak yang pada saat-saat tertentu akan dapat meledak ketika kendali diri melemah. Dalam kondisi yang seperti ini seseorang bisa kehilangan kendali diri yang berakibat melakukan sesuatu yang dapat merugikan dirinya dan juga orang lain.

Halaman:

Editor: Swasto Dayanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Lima Rahasia Keberhasilan Dakwah Nabi Muhammad SAW

Rabu, 8 Desember 2021 | 05:00 WIB

Lima Ujian yang Dihadapi Hidup Orang Beriman

Jumat, 26 November 2021 | 05:00 WIB

Empat Macam Kedudukan Anak dalam Al Quran

Senin, 22 November 2021 | 04:36 WIB

Enam Buah Takwa yang Dinjanjikan Allah dan Rasul-nya

Jumat, 12 November 2021 | 05:00 WIB

Makna Pahlawan dalam Perspektif Islam

Rabu, 10 November 2021 | 05:00 WIB

Roja’ Kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Rabu, 27 Oktober 2021 | 05:00 WIB
X