Pertunjukan Teater Mangiring pada Jagongan Wagen di PSBK Kembaran Tamantirto Bantul Kritisi Konsep Adat Istiadat Batak

photo author
Redaksi Merapi, Harian Merapi
- Senin, 27 November 2023 | 13:30 WIB
Salah satu adegan dalam pementasan teater Mangiring pada Jagongan Wagen di PSBK.  (Teguh Priyono)
Salah satu adegan dalam pementasan teater Mangiring pada Jagongan Wagen di PSBK. (Teguh Priyono)

HARIAN MERAPI - Komunitas Sakatoya menggelar pertunjukan terbarunya dengan lakon Mangiring di Pusat Seni Bagong Kussudiardja (PSBK), Kembaran, Tamantirto, Kasihan, Bantul, Sabtu (25/11/2023) malam, memukau sekaligus menghanyutkan perasaan penonton larut dalam alur cerita.

Pertunjukan teater Mangiring yang merupakan persembahan Jagongan Wagen Episode 151 ini, salah satu upaya melanjutkan spirit maestro seni Indonesia Bagong Kussudiardja yang menempatkan PSBK sebagai art center dengan misi mendukung pengembangan kreatifitas berkesenian para seniman dan masyarakat.

Penampilan Mangiring besutan karya Miftahul Maghfira Simanjuntak sekaligus sutradara pementasan itu, berhasil memberikan tontonan bermutu kepada penontonnya.

Baca Juga: Gara-gara amankan 33 PSK di Denpasar, begini nasib 5 anggota Satpol PP

Cerita yang mengangkat tema kehidupan adat masyarakat Batak ini, begitu menyentuh dan memiliki kekuatan mengaduk aduk emosi penonton dalam setiap agedannya.

Meski durasi panggung tidak panjang dan ringkes, tetapi para pemain seperti Ninda Fillasputri (Sondang), Biola Alexandra sebagai Lamtiur, Kevin Abani tokoh Domu, dan Eskhana Carmelia Sibarani menjadi Uli, mereka secara total bermain penuh penghayatan sebagai orang Batak adanya.

Meski hanya Carmelia Sibarani yang benar benar memiliki darah Batak sedang tiga pemain lainnya justru berasal dari Jawa.

"Ini memang sangat unik pementasannya, karena para pemain dalam cerita ini mereka sama sekali bukan orang Batak, cuma pemeran Uli saja yang memiliki darah Batak," tutur Miftahul.

Baca Juga: Dedi Mulyadi Bikin Lomba Joget Gemoy, Begini Komentar Peneliti LSI Denny JA

Menurut dia, cerita ini mengambil potong potongan kisah kehidupan dalam masyarakat adat Batak yang masih begitu kuat memegang adat mereka terkait seorang anak laki laki dalam mewariskan marga mereka.

Sebuah keluarga akan merasa tersisih dalam keluarga besarnya jika tidak memiliki anak laki laki.

Hal itu terjadi dalam keluarga Domu yang menikah dengan Lamtiur yang hanya dikaruniai seorang anak perempuan bernama Uli yang dalam adat Batak tidak disebut sebagai anak tetapi Boru yang hanya bisa di dapur.

Baca Juga: Wali Kota Sebut Aktivitas Ekonomi di Bitung Sudah Berjalan Normal Pascabentrokan Dua Kelompok Masyarakat

Alur cerita diawali dengan kemeriahan pesta perkawinan antara Domu dan Lamtiur sebagai adat Batak dalam pesta perkawinan itu selalu ada doa kesehatan, keselamatan serta kebahagiaan yang disimbolkan dengan pemberian kain ulos Mangiring dari mertua kepada menantu perempuannya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Husein Effendi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X