• Rabu, 1 Desember 2021

Nadiem Makarim : Kemampuan Bernalar Siswa Bukan dari Materi Pelajaran, Tetapi Metode Guru Mengajar

- Kamis, 7 Oktober 2021 | 19:17 WIB
Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim saat meninjau Asesmen Nasional di Badung, Bali, Kamis (7/10/2021)  ((ANTARA/BKHM Kemendikbudristek))
Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim saat meninjau Asesmen Nasional di Badung, Bali, Kamis (7/10/2021) ((ANTARA/BKHM Kemendikbudristek))

mas JAKARTA, harianmerapi.com - Kemampuan bernalar dan menganalisis siswa bukan dilihat dari materi pelajaran, melainkan bagaimana metode guru dalam mengajar sehingga berkontribusi terhadap kemampuan siswa dalam bernalar dan menganalisis.

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim menjelaskan bahwa semua guru mata pelajaran memiliki kontribusi, karena kemampuan literasi dan numerasi melekat di semua mata pelajaran.

“Jadi literasi itu bukan tentang mata pelajaran bahasa Indonesia. Numerasi bukan hanya tentang mata pelajaran matematika. Assesmen Kompetensi Minimum (AKM). Mengukur kemampuan bernalar di bidang literasi dan numerasi, yaitu kemampuan menganalisis informasi, kemudian memecahkan permasalahan dengan logika, ujar Mendikbudristek dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Kamis (7/10/2021).

Baca Juga: Mancing Terlalu ke Tengah, Tenggelam Di Perairan Pangkalan

Hal itu adalah kompetensi minimum yang penting, dan guru berperan dalam itu semua. Guru berkontribusi terhadap kemampuan anak-anak bernalar.

Ia mengatakan, metode mengajar guru menjadi salah satu faktor penentu dalam mengembangkan kemampuan bernalar siswa, misalnya bagaimana anak-anak terbiasa memberikan opini di dalam kelas atau bagaimana mereka melakukan analisis. Metode mengajar yang aktif dan menarik akan mampu menciptakan kelas menjadi lebih hidup.

“Kita mendorong ke arah itu. Jadi bukan soal mata pelajaran, tetapi kemampuan mendasar, yaitu kemampuan bernalar. Itu yang kita tes,” katanya.

Baca Juga: 13 Pengeroyok Diduga Klitih Hingga Tewas, Mulai Diadili di PN Sleman

Di sekolah ini, Mendikbudristek juga memuji implementasi Peraturan Gubernur tentang mengenakan busana adat setiap hari Kamis. Bukan hanya pakaian adat Bali, tapi juga bisa dari daerah lainnya.

Hal tersebut dikatakan Mendikbudristek baik untuk menumbuhkan nilai-nilai kebinekaan, toleransi, dan nasionalisme.

Terkait hal tersebut, Nadiem menuturkan, Asesmen Nasional menjadi survei yang pertama kali menyetarakan nilai-nilai Pancasila, kebinekaan, dan akhlak, melalui pertanyaan-pertanyaan dalam survei. Asesmen Nasional juga menjadi alat pertama untuk mengetahui tingkat toleransi yang hasilnya akan diberikan terbatas kepada kepala sekolah.

Baca Juga: Kasus Meninggal Covid-19 di DIY Turun Drastis, Hanya Satu Kasus Sehari

“Jadi tingkat toleransinya seperti apa, atau ada indikasi seperti apa, nanti itu semua dilaporkan ke kepala sekolah supaya ditindaklanjuti dan didiskusikan dengan guru-guru,” ujarnya.

Halaman:

Editor: Widyo Suprayogi

Sumber: Antara

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Inovasi Kopi Mahasiswa UMY Raih Juara KMI Expo 2021

Rabu, 24 November 2021 | 11:20 WIB
X