Mengenal tradisi brandu, yang diduga menjadi penyebab penularan antraks ke manusia di Gunung Kidul

photo author
Widyo Suprayogi, Harian Merapi
- Minggu, 9 Juli 2023 | 11:55 WIB
Wakil Bupati Gunungkidul Heri Susanto. (ANTARA/Sutarmi)
Wakil Bupati Gunungkidul Heri Susanto. (ANTARA/Sutarmi)

HARIAN MERAPI - Tradisi brandu atau porak di kalangan masyarakat Gunung Kidul diterngarai menjadi sebab penularan antraks ke manusia.

Menurut Wakil Bupati Gunung Kidul Heri Susanto, tradisi brandu atau porak ini sudah berlangsung secara turun temurun di kalangan masyarakat.

Tradisi ini sering terjadi ketika ada hewan ternak yang sakit maupun sudah mati dipotong dan dagingnya dijual untuk mengurangi kerugian pemilik ternak.

Baca Juga: Dua pekan pengantin wanita di Bogor menghilang, tiba-tiba kembali ke rumah bersama mantan kekasihnya

"Kami melakukan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat yang mempunyai ternak, supaya saat memiliki hewan ternak sakit atau mati tidak dikonsumsi," kata Heri, Minggu (9/7/2023).

Ia mengatakan Pemkab Gunungkidul tengah menyusun kajian hewan ternak yang mati akibat penyakit dan pemkab bisa langsung melakukan intervensi.

Saat ini, Pemkab Gunungkidul sedang melakukan analisa dan membuat kebijakan khusus supaya budaya atau tradisi brandu ditinggalkan oleh masyarakat.

Baca Juga: Waspada, masih ada TPPO terselubung dan disembunyikan oknum, ini modusnya

"Kami mengupayakan ternak-ternak yang mati akibat penyakit, khususnya antraks mendapat ganti rugi dari pemkab. Kami juga menyiapkan skema bantuan premi asuransi ternak," katanya.

Heri Susanto mengatakan fakta di lapangan, hewan ternak yang mati akibat penyakit atau virus, kalau tidak dikonsumsi tidak akan berdampak pada manusia.

"Ini yang kami upayakan agar masyarakat tidak mengonsumsi daging dari hewan ternak yang mati akibat sakit atau penyakit tertentu," katanya.

Baca Juga: Penyanyi Ari Lasso tampil memukau, suguhkan konser romantis sekaligus penuh humor ringan, ini penampilannya

Lebih lanjut, Heri mengatakan Pemkab Gunungkidul telah memperketat lalu lintas yang keluar dan masuk ke Gunungkidul. Hewan ternak yang keluar dari Gunungkidul juga diwajibkan dilengkapi dengan surat keterangan kesehatan hewan.

"Kami pastikan hewan yang keluar dari Gunungkidul sehat dan aman, karena Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan mengeluarkan SKKH," katanya.

Kasus antraks di Padukuhan Jati, Desa/Kalurahan Candirejo, menyebabkan satu orang meninggal dunia dan 87 orang lainnya positif antraks.(*)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Widyo Suprayogi

Sumber: ANTARA

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X