Cegah keracunan MBG, Kepala BGN Dadan Hindayana sebut sudah punya langkah antisipasi

photo author
Koko Triarko, Harian Merapi
- Selasa, 20 Mei 2025 | 20:30 WIB
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana, usai meresmikan SPPG Sambirejo di Kapanewon Prambanan, Sleman, DI Yogyakarta, Selasa (20/5/2025).  (Koko Triarko)
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana, usai meresmikan SPPG Sambirejo di Kapanewon Prambanan, Sleman, DI Yogyakarta, Selasa (20/5/2025). (Koko Triarko)

HARIAN MERAPI - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana mengaku sudah punya sejumlah langkah antisipasi guna mencegah terjadinya kasus keracunan terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Seperti diketahui, pada awal pelaksanaannya beberapa kasus keracunan MBG sempat beberapa kali terjadi di sejumlah daerah di Tanah Air.

Beberapa kasus dugaan keracunan MBG di sejumlah daerah itu juga sempat menimbulkan kekhawatiran. Selain itu, juga memunculkan kesan ketidaksiapan pemerintah dalam menjalankan program tersebut.

Baca Juga: Bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, FKY Keluarkan Pernyataan Sikap: Pelantikan Gibran Langgar Konstitusi

Namun demikian, Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana mengaku sudah punya langkah antisipasi guna mencegah kasus serupa.

Ditemui usai launching SPPG Sambirejo di Kapanewon Prambanan Kabupaten Sleman Yogyakarta, Selasa (20/5/2025), Dadan Hindayana menyebut pihaknya telah mengevaluasi beberapa kasus dugaan keracunan MBG yang pernah terjadi tersebut.

Menurut dia, beberapa kasus dugaan keracunan atau yang disebutnya sebagai gangguan pencernaan pada pelaksanaan program MBG, terjadi karena dua faktor utama. Yaitu, bahan baku dan processing.

Dia menjelaskan, kasus gangguan pencernaan akibat MBG yang pernah terjadi di Sukoharjo karena faktor processing. Kejadian kehabisan gas saat memasak, sehingga proses memasak menjadi lama dan makanan menjadi basi.

Baca Juga: BGN, Kemendes PDT, dan Kepala Staf Presiden resmikan 14 SPPG di DIY, Dadan Hindayana optimis target 4 juta penerima MBG tercapai

Kemudian di Palembang, keracunan atau gangguan pencernaan akibat MBG disebabkan oleh menu ikan tongkol. Hal ini karena tidak setiap orang bisa menerima tongkol atau alergi.

Ada juga kejadian saat makanan dikirim ke sekolah, tidak langsung dikonsumi dan disimpan lama karena sekolah sedang ada acara. Hal ini membuat makanan menjadi basi.

Sementara di Cianjur, Tasikmalaya, dan Bandung Jawa Barat, kasus yang terjadi karena kelengahan.

Baca Juga: Pelaku Perusakan Nisan Makam di Banguntapan, Sewon dan Bantul Akan Diperiksa Kejiwaannya, Belum Diketahui Motifnya

Dadan Hindayana mengungkapkan, SPPG di tiga kota di Jawa Barat itu sudah terbiasa menyediakan menu MBG, sehingga lengah.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Husein Effendi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Ikan sapu-sapu, Pram dan ekosistem lingkungan

Selasa, 14 April 2026 | 16:00 WIB
X