Ini pentingnya pencegahan penyakit saat hujan dan banjir, ikuti saran dokter berikut ini

photo author
Hudono, Harian Merapi
- Minggu, 18 Januari 2026 | 10:00 WIB
Arsip foto - Seorang anak memakai jas hujan saat melintasi banjir di Kutabumi, Kabupaten Tangerang, Banten, Kamis (11/9/2025). Banjir setinggi 20 - 50 cm yang kerap terjadi ketika hujan deras diakibatkan buruknya kualitas drainase di kawasan tersebut.  (ANTARA FOTO/Putra M. Akbar)
Arsip foto - Seorang anak memakai jas hujan saat melintasi banjir di Kutabumi, Kabupaten Tangerang, Banten, Kamis (11/9/2025). Banjir setinggi 20 - 50 cm yang kerap terjadi ketika hujan deras diakibatkan buruknya kualitas drainase di kawasan tersebut. (ANTARA FOTO/Putra M. Akbar)

hukja

HARIAN MERAPI - Ahli Kesehatan mengingatkan pentingnya pencegahan berbagai macam penyakit saat hujan dan banjir.

Apalagi profesi yang menuntut mobilitas tinggi, seperti Wartawan, kurir ekspedisi dan petugas lainnya, perlu pencegahan agar tak terserang penyakit saat hujan.

Dosen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas YARSI DR. dr. Wan Nedra Komaruddin, Sp.A, mengingatkan pekerja lapangan untuk meningkatkan kewaspadaan kesehatan saat bertugas di tengah hujan dan banjir guna mencegah berbagai penyakit infeksi yang berpotensi serius.

Baca Juga: Disdikbud Gencar Sidak, Pemkab Sukoharjo Ingatkan Disiplin Pegawai Berlaku Bagi Guru

Wan Nedra, yang juga pemilik Klinik Asshomadiyah Medicare Centre itu mengatakan pekerja lapangan seperti wartawan, kurir ekspedisi, dan petugas teknis lainnya memiliki risiko kesehatan lebih tinggi karena sering terpapar air hujan dan banjir yang kotor.

“Pekerja lapangan menghadapi risiko penyakit yang cukup serius, mulai dari leptospirosis, infeksi kulit, diare, hingga infeksi saluran pernapasan,” kata Wan Nedra ketika dihubungi ANTARA di Jakarta, Kamis.

Ia menjelaskan leptospirosis merupakan salah satu penyakit yang perlu diwaspadai karena disebabkan bakteri dari urine tikus atau hewan lain yang mencemari air banjir.

Bakteri tersebut dapat masuk melalui luka kecil di kulit dan menyebabkan demam tinggi, nyeri otot, hingga gangguan ginjal dan hati bila tidak segera ditangani.

Selain itu, kontak berkepanjangan dengan air kotor juga dapat memicu infeksi kulit seperti dermatitis, bisul, dan jamur, serta meningkatkan risiko diare dan tifus akibat bakteri dan virus yang masuk ke saluran pencernaan.

Baca Juga: BangTek Gelar YCS Knowledge Sharing di Yogyakarta, Dorong Teknisi Indonesia Naik Kelas

Kondisi lembap dan dingin dalam waktu lama, lanjut dia, turut meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan, termasuk flu, bronkitis, dan pneumonia.

Wan Nedra menekankan langkah paling penting yang harus dilakukan pekerja lapangan setelah terpapar air banjir adalah membersihkan diri sesegera mungkin.

“Segera mandi dengan air bersih dan sabun, terutama di bagian tubuh yang kontak langsung dengan air banjir. Luka sekecil apapun harus dibersihkan dan diberi antiseptik,” ujarnya.

Ia juga menyarankan pekerja segera mengganti pakaian dan alas kaki yang basah, serta membersihkan perlengkapan kerja seperti sepatu bot dan sarung tangan agar tidak menjadi sumber penularan penyakit.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Hudono

Sumber: ANTARA

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X