Ini peran orang tua melindungi anak di ruang digital

photo author
Hudono, Harian Merapi
- Jumat, 17 April 2026 | 12:00 WIB
Psikolog anak, remaja, dan keluarga Sani Budiantini Hermawan saat menyampaikan paparannya dalam sebuah sesi diskusi di Jakarta Pusat pada Kamis (16/4/2026).  (ANTARA/Farhan Arda Nugraha)
Psikolog anak, remaja, dan keluarga Sani Budiantini Hermawan saat menyampaikan paparannya dalam sebuah sesi diskusi di Jakarta Pusat pada Kamis (16/4/2026). (ANTARA/Farhan Arda Nugraha)

HARIAN MERAPI - Anak-anak harus mendapat perlindungan di ruang digital. Jangan sampai mereka terpengaruh konten negatif di ruang digital.

Berkaitan itu, anak harus dibatasi aksesnya terhadap platform digital yang berisiko tinggi. Di sinilah peran orang tua.

Psikolog anak, remaja, dan keluarga Sani Budiantini Hermawan menilai peran orang tua menjadi faktor utama dalam keberhasilan implementasi PP Tunas, terutama dalam membatasi akses anak terhadap platform digital berisiko tinggi.

Baca Juga: Penyisihan Grup A Piala AFF U-17 2026: Timnas Indonesia U-17 Ditekuk Malaysia 0-1

Menurut Sani, tantangan terbesar dari implementasi PP Tunas atau Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak justru berada di lingkungan keluarga, karena banyak anak belum siap ketika penggunaan gawai mulai dibatasi.

“Ternyata banyak anak yang tantrum ketika orang tuanya membatasi atau bahkan sudah mulai bernegosiasi untuk membatasi penggunaan platform digital,” kata Sani dalam sebuah sesi diskusi di Jakarta, Kamis.

Ia kerap menjumpai anak yang menunjukkan reaksi penolakan saat orang tua mulai membatasi penggunaan gawai maupun akses ke platform digital tertentu.

Menurut dia, reaksi anak muncul dalam berbagai bentuk mulai dari tantrum, perasaan cemas, hingga keluhan fisik seperti mual dan muntah karena sudah pada tahap kecanduan berlebihan pada gawai.

Baca Juga: Tujuh Indikator Kebahagiaan Hidup

“Bahkan sudah ada yang cemas, muntah-muntah, ada yang mual, dan kena gejala psikosomatis karena sudah terlalu menempel sama gawainya,” ujar psikolog lulusan Universitas Indonesia tersebut.

Sani menambahkan tidak sedikit orang tua yang juga merasa terbebani karena harus menghadapi perubahan perilaku anak setelah pembatasan diterapkan.

Karena itu, menurut dia, orang tua perlu memiliki kesiapan mental dan pemahaman yang cukup mengenai tujuan PP Tunas, yakni melindungi anak dari risiko dampak negatif paparan gawai berlebihan.

Sani juga mendorong orang tua untuk lebih kreatif menghadirkan aktivitas alternatif yang dapat mengalihkan anak dari ketergantungan gawai sekaligus membangun ikatan emosional dengan keluarga.

"Intinya orangtua harus kreatif untuk memberikan mainan baru yang menimbulkan ikatan emosional seperti bermain catur, kelereng, monopoli, atau ular tangga," ucapnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Hudono

Sumber: ANTARA

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X