HARIAN MERAPI - Penggunaan plastik sekali pakai harus dibatasi karena bisa mengancam ekosistem lingkungan.
Bisa dimulai dengan cara sederhana, misalnya membawa kantong sendiri Ketika berbelanja.
Pegiat lingkungan dari Greenpeace Indonesia, Muharram Atha Rasyadi, menyampaikan pentingnya pengurangan penggunaan plastik sekali pakai untuk menjaga alam dan lingkungan.
Baca Juga: Delapan indikator keterampilan sosial anak usia dini
"Situasi geopolitik yang terjadi saat ini menjadi pengingat jelas bahwa ketergantungan kita terhadap sektor ekstraktif seperti minyak bumi sangatlah tinggi. Hal ini tidak hanya berkaitan dengan BBM, namun juga terhadap produksi plastik sekali pakai yang menjadikan minyak bumi sebagai bahan utamanya," katanya saat dihubungi ANTARA pada Kamis.
Menurut dia, upaya pengurangan penggunaan plastik sekali pakai bisa dimulai dengan membawa wadah guna ulang ketika berbelanja serta membeli makanan dan minuman.
"Menolak penggunaan sedotan atau styrofoam bisa menjadi langkah awal yang mudah. Jika mulai terbiasa, kita bisa lakukan pemilahan sampah di rumah," katanya.
Senada dengan Atha, pegiat Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik, Tiza Mafira, mengatakan bahwa upaya pengurangan penggunaan plastik sekali pakai bisa dimulai dengan membiasakan diri membawa botol minuman saat bepergian.
"Dengan banyak daerah yang melarang kresek, masyarakat juga terbiasa membawa tas belanja sendiri," katanya kepada ANTARA pada Kamis.
"Selanjutnya bisa membiasakan kalau beli bahan makanan yang basah ke pasar, bisa membawa kotak makan sendiri," ia menambahkan.
Selain beralih menggunakan kantung guna ulang saat belanja dan membawa wadah sendiri saat membeli makanan atau minuman, ia mengatakan, pengaturan pembelian barang keperluan rumah tangga bisa diatur sedemikian rupa untuk meminimalkan penggunaan plastik.
Baca Juga: Wali Kota Magelang Ajak Dokter Muda Tajamkan Empati, Bukan Sekadar Keahlian
"Produk rumah tangga atau personal care bisa pilih sistem isi ulang. Belanja bahan dapur bisa dengan beli secara curah tanpa kemasan," katanya.*