HARIAN MERAPI - Hampir seluruh wilayah kabupaten Pati (Jateng), terdampak banjir awal 2026 ini.
Bahkan luasan serta ketinggian kubangan air bisa saja terus bertambah, karena hujan belum ada tanda-tanda reda sejak turun Jumat pekan lalu.
Ketua Pasopati, H Pandoyo mengungkap, jika berdasar penjelasan Kabid Kedaruratan BPBD Jateng, Muhammad Chomsul, akan dilakukan rekayasa cuaca di wilayah Kabupaten Kudus, Pati dan Jepara.
Yakni menerbangkan pesawat yang memodifikasi cuaca di wilayah Gunung Muria.
"Operasi rekayasa cuaca selama 5 hari, dilakukan dengan pesawat Cessna C208. Lepas landas dari bandara Ahmad Yani Semarang, sejak Kamis pagi," kata Pandoyo, Jumat (16/1/2026).
Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pati, dari 21 kecamatan yang ada di kabupaten yang berjuluk Bumi Mina Tani, hanya Jaken yang tidak terdampak banjir.
Pantauan wartawan, banjir menerjang di 14 desa Kecamatan Pati Kota, Wedarijaksa 5, Tayu 3, Dukuhseti 10, Margoyoso 4, Gabus 7, Winong 2, Batangan 3, Jakenan 9, Juwana 10, Gembong 1, Trangkil 2, Sukolilo 2, Cluwak 4, Pucakwangi 3 dan Kecamatan Gunungwungkal di 3 desa.
Baca Juga: Polsek Umbulharjo Amankan Remaja Diduga Hendak Tawuran, Sajam Berhasil Disita
Curah hujan yang cukup tinggi, juga menambah elevasi dua waduk yang berada di Kecamatan Gembong bertambah. Yaitu waduk desa Sitiluhur dan waduk Seloromo.
Selain mengepung puluhan desa, banjir juga menyebabkan jalan rusak, pagar sekolah roboh, dan memaksa rugi para petani.
Karena hilangnya jutaan benih ikan tambak, serta terendamnya ratusan hektar tanaman padi dan palawija.
Musibah banjir memantik perhatian sejumlah organisasi atau perorangan untuk mengirim bantuan.
Salah satunya, kepedulian dari klenteng Hok Tik Bio Pati, pimpinan Edy Kubota.
"Sejak ada musibah, kami per hari kirim 1.500 dos makan," kata Edy Kubota.
Perum Bulog memberikan bantuan 1 ton beras premium ke warga desa Sidoharjo Kecamatan Pati Kota.
Hal yang sama, juga akan diberikan ke wilayah lain. Seperti Juwana, Widorokandang, Geritan, Gabus, hingga Mintobasuki.
Baca Juga: Bolehkah Membayar Fidyah di Awal Tahun? Ini Penjelasan Fiqihnya
Sementara itu, Bupati Pati, Sudewo menegas penanganan darurat telah dilakukan pada sejumlah tanggul jebol dan jembatan rusak.
Penanganan jangka panjang akan dilakukan melalui APBD, Kementerian PUPR, dan BNPB.
“Normalisasi sungai menjadi prioritas. Kami mengerahkan 12 alat berat, dan pada APBD 2026 membeli alat berat tambahan,” kata Bupati Pati. *