HARIAN MERAPI - Pasien stroke perlu penanganan khusus, antara lain dengan melakukan fisioterapi secara rutin.
Hal itu perlu dilakukan untuk memperbaiki kondisi kesehatannya setelah terkena stroke.
Demikian diingatkan dokter spesialis saraf RSUD Tanjung Priok dr. Priyanka Ganesha Utami, Sp.N dalam diskusi daring yang diikuti di Jakarta, Jumat.
Baca Juga: Peruntungan Shio Macan sepekan mulai Minggu 3 November 2024, Anda sedang membangun jalan ke atas
Ia mengatakan bahwa pasien membutuhkan fisioterapi rutin untuk dapat memperbaiki kondisi kesehatannya setelah terkena stroke.
“Jadi di dalam tubuh kita ada pembuluh darah besar dan kecil, kalau kita kenanya pembuluh darah yang kecil, mungkin bisa membaik fungsinya,” kata Priyanka.
Priyanka menjelaskan saat ini penyakit stroke menempati penyakit kedua sebagai penyebab kematian terbanyak di dunia dan pertama di Indonesia. Di mana penderitanya terkena serangan otak (brain attack) yang menyebabkan lemas setengah badan hingga buta pada satu mata secara mendadak.
Dalam proses penyembuhannya, tenaga medis perlu melihat terlebih dahulu penyebab dari stroke yang diderita pasien. Apabila stroke terjadi akibat adanya pecah pembuluh darah yang kecil di otak, maka proses fisioterapi akan jauh lebih mudah dilakukan.
Baca Juga: Warga di Dusun Kaliajeng Lereng Merbabu kesulitan air, Yayasan Izzatul Islam bantu air bersih
“Kalau kita kenanya di pembuluh darah yang kecil, mungkin kita bisa membaik fungsinya (dengan fisioterapi). Tapi di dalam otaknya, masih ada bekas luka dan kita bisa reparasi itu, caranya dengan fisioterapi,” ucap dia.
Ia mengatakan semakin rutin dilakukan, akan ada perubahan fungsi pada otak pasien sehingga sel-sel di dalamnya akan tumbuh secara perlahan.
“Kita katakan sebagai neuroplastisitas, jadi otak kita tumbuh, kita bisa memolding seperti plastisin,” katanya.
Selain fisioterapi, tolak ukur lain yang dokter lihat dalam proses penyembuhan pasien stroke yakni tergantung pada gejala strokenya secara fungsional.
Baca Juga: Syukur nikmat ciri-ciri orang beriman
Biasanya para dokter akan melakukan penilaian menggunakan National Institutes of Health Stroke Scale (NIHSS), yakni sebuah skala nilai yang digunakan untuk menilai keparahan stroke dan respons terhadap terapi trombolisis.