opini

Rai Gedeg: Ketika Rasa Malu Mulai Menghilang di Tengah Masyarakat

Jumat, 17 April 2026 | 20:17 WIB
Ilustrasi rai gedeg (Gemini AI)

* Oleh: Kahana

HARIAN MERAPI - Di tengah kehidupan masyarakat yang tampak berjalan normal, sebenarnya ada fenomena sosial yang kerap luput dari perhatian.

Fenomena ini tidak selalu terlihat secara kasat mata, namun dampaknya cukup terasa dalam relasi antarindividu. Dalam istilah Jawa, fenomena tersebut sering disebut "Rai Gedeg” sebuah ungkapan yang menggambarkan sikap seseorang yang seolah tidak lagi memiliki rasa malu.

Baca Juga: Sepuluh penghalang amal shaleh menurut Quran dan Hadits

Rai gedeg bukan sekadar persoalan keberanian atau rasa percaya diri. Lebih dari itu, istilah ini merujuk pada perilaku yang mengabaikan norma, etika, dan tanggung jawab sosial. Seseorang yang mengetahui dirinya berbuat salah, namun tetap melakukannya tanpa rasa bersalah, bahkan cenderung santai dan tidak terbebani.

Salah satu contoh yang paling sering ditemui adalah kebiasaan meminjam uang tanpa tanggung jawab yang jelas. Pada awalnya, permintaan pinjaman biasanya disampaikan dengan cara yang sopan dan penuh harap. Alasan yang diberikan pun sering kali menyentuh sisi empati, kebutuhan mendesak, kondisi keluarga, atau keperluan mendadak lainnya.

Namun, persoalan muncul ketika waktu pengembalian tiba. Tidak sedikit kasus di mana pinjaman tersebut tidak kunjung dikembalikan. Ketika ditagih, jawaban yang muncul cenderung berulang: “belum ada uang, besuk kalau sudah ada uang saya kembalikan.” Kalimat tersebut seolah menjadi alasan yang terus diulang tanpa kepastian.

Fenomena ini bahkan berkembang lebih jauh. Ada individu yang meminjam uang ke banyak pihak, namun tidak mengembalikannya. Ironisnya, di sisi lain, orang tersebut justru terlihat memberikan sumbangan pada komunitas tertentu. Tindakan ini kerap dimaknai sebagai upaya pencitraan diri, agar tetap dianggap sebagai sosok yang mampu secara finansial.

Baca Juga: Ada Apa Gerai KDMP Jontro Pati? Bangunan Membelakangi Jalan Utama

Lebih menarik lagi, ketika bertemu dengan orang-orang yang pernah dipinjam uangnya, tidak tampak adanya rasa canggung atau sungkan. Interaksi tetap berlangsung normal, bahkan santai. Padahal, dalam norma sosial yang umum, kondisi semacam ini biasanya menimbulkan rasa tidak enak hati atau keinginan untuk segera menyelesaikan kewajiban.

Contoh lain dari perilaku rai gedeg dapat dilihat pada kecenderungan sebagian orang untuk membangun citra diri yang tidak sesuai dengan kenyataan. Misalnya, mengaku bekerja di perusahaan ternama atau memiliki posisi tertentu, mengaku sebagai dosen padahal hal tersebut tidak benar. Narasi yang dibangun sering kali terdengar meyakinkan, lengkap dengan detail yang membuat orang lain percaya.

Selain itu, fenomena pamer gaya hidup juga menjadi bagian dari dinamika ini. Media sosial sering dimanfaatkan sebagai sarana untuk menampilkan kehidupan yang tampak sempurna mulai dari kepemilikan barang, aktivitas rekreasi, hingga gaya hidup yang terkesan mapan. Namun, tidak semua yang ditampilkan mencerminkan kondisi yang sebenarnya.

Dalam kehidupan nyata, perilaku ini sering kali dibalut dengan penampilan yang rapi dan sikap yang sopan. Hal ini membuatnya sulit dikenali secara langsung. Seseorang dapat terlihat meyakinkan di permukaan, tetapi memiliki perilaku yang bertolak belakang dalam praktiknya.

Baca Juga: Tujuh Indikator Kebahagiaan Hidup

Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Sejak dulu, dalam berbagai budaya, rasa malu selalu dianggap sebagai salah satu nilai moral yang penting. Rasa malu berfungsi sebagai pengingat bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Halaman:

Tags

Terkini

Zaman Edan, dan Ruh yang Mencari Jalan Pulang

Rabu, 15 April 2026 | 16:10 WIB

Relaksasi dan Kompetensi WPOP di Era Coretax

Rabu, 15 April 2026 | 16:00 WIB

Guyub-Rukun demi Kedamaian

Senin, 13 April 2026 | 13:00 WIB

Sunatullah Tubuh yang Menua: Tafsir Filosofis

Sabtu, 21 Maret 2026 | 08:45 WIB

Lebaran: Obat Kesepian Manusia Modern

Kamis, 19 Maret 2026 | 12:50 WIB

Korupsi Berkedok Idulfitri

Rabu, 18 Maret 2026 | 10:11 WIB

Puasa Sebagai Investasi Spiritual

Senin, 16 Februari 2026 | 10:00 WIB

Hukum Untuk Mewujudkan Kedamaian

Senin, 5 Januari 2026 | 10:00 WIB

Peran Strategis Ibu dalam Pendidikan Anak

Senin, 22 Desember 2025 | 09:31 WIB

FWK Membisikkan Kebangsaan dari Diskusi-diskusi Kecil

Jumat, 31 Oktober 2025 | 10:30 WIB